21 Orang yang Sangat Sukses, Orang dengan Masalah Kejiwaan Yang Menginspirasi

 

Diterjemahkan dengan penyesuaian pada bagian pembukaan. Artikel asli dalam Bahasa Inggris ada di https://healthypsych.com/21-highly-successful-inspiring-people-with-mental-health-challenges/

Kami merasa terinspirasi untuk menyusun sebuah daftar orang yang sangat sukses, di samping, atau bahkan karena, mereka berjuang menghadapi masalah kejiwaannya. Ini bukanlah daftar yang lengkap, juga bukan yang pertama dalam jenis tulisan ini, kami berharap ini menjadi semacam pengingat bahwa semua orang punya perjuangannya masing-masing; dan merupakan hal yang penting tidak menganggap ini sebagai satu kekurangan; dan bahwa sudah seharusnya kita semua melanjutkan perjuangan untuk sebuah dunia di mana kesehatan jiwa dipandang dan dibicarakan sama terbukanya dengan kesehatan fisik.

1.) Abraham Lincoln –  Depresi Klinis, Gangguan Stres Pasca-Trauma (PTSD)

Presiden Amerika Serikat yang dua kali terpilih, terkenal karena perilakunya yang melankolis; jika sekarang masih hidup, dia akan terdiagnosa sebagai mengalami depresi klinis. Para sejarawan berteori bahwa depresi yang dialami oleh Lincoln mungkin telah membantu dia secara politis, yaitu menimbulkan simpati dan perasaaan kemanusiaan terhadap publik, yang jika terjadi di masa sekarang akan dianggap sebagai masalah kepercayaan dan tanggung jawab. Selain mengalami dua episode depresi berat, ia juga melewati beberapa kematian orang yang dicintainya (termasuk anak lelakinya Willie selama periode keduanya sebagai presiden), sehingga pada suatu kesempatan ia berkata, “Aku adalah manusia di kehidupan ini yang paling menderita,” Lincoln diingat sebagai figur monumental dalam sejarah Amerika Serikat.

Aku tidak terikat untuk menang, tapi aku terikat untuk menjadi yang sejati. Aku tidak terikat untuk sukses, tapi aku terikat pada cahaya yang aku punya untuk melanjutkan hidup.” – Abraham Lincoln

2.) Alvin Ailey – Bipolar, Penyalahgunaan Zat

Pelopor dari tarian modern ini merupakan pendiri dari Alvin Ailey American Dance Theater pada tahun 1958 dengan niat untuk berkarya dan mempertunjukkan seni tari bersama orang-orang yang berbakat tanpa peduli pada perbedaan ras. Ia selalu merahasiakan identitas seksualnya serta berada di bawah tekanan publik akan kesuksesannya. Ailey mulai menyalahgunakan narkoba dan alkohol sebelum mengalami gangguan jiwa pada tahun 1980 yang kemudian disusul dengan hadirnya serangan gangguan bipolar. Selain perjuangannya dalam problema kesehatan serta kematiannya pada tahun 1989, jejak karya Ailey terus hidup lewat koreografi dan perusahaan tarinya yang melakukan pertunjukan hingga 60 tahun setelah pendiriannya.

Aku berupaya untuk menunjukkan pada dunia bahwa kita semua adalah manusia, dan warna kulit merupakan hal yang tidak penting. Yang penting adalah kualitas dari karya kita.” – Alvin Ailey

3.) Ben Zobrist – Depresi, Kecemasan

Juara dua kali Kejuaraan Dunia berturut-turut, 2015 bersama Kansas City Royals dan 2016 bersama Chicago Cub, Zobrist telah membuktikan bahwa dirinya adalah pemain baseball yang berbakat dan serba bisa. Sebagai atlet dengan kontrak jutaan dollar, keluarga yang harmonis, dan gelar sebagai MVP dalam Kejuaraan Dunia 2016, depresi yang mengancam karier nampaknya sama sekali tidak “selaras” dengan apa yang dia alami. Walaupun demikian dalam autobiografinya, Zobrist menulis bahwa depresi dan kecemasan — yang membuatnya lumpuh — yang dia alami setelah ia kembali ke liga kecil pada tahun 2007 hampir menghancurkan hasratnya untuk terus bermain baseball. Zobrist mampu bertahan dengan belajar dari kawannya dan memperbaharui keyakinannya, juga dengan cara bertumpu pada jejaring dukungan yang akhirnya membuatnya kembali pada olahraga permainan yang dicintainya.

Setiap hari yang baru punya bentuk yang berbeda. Luluhlah bersamanya.” – Ben Zobrist

4.) Brian Wilson – Gangguan Skizoafektif, Bipolar

Sebagai penyanyi terkemuka dari kelompok musik ternama, The Beach Boys, Wilson menonjol sebagai “jiwa” dari grup tersebut yang populer di antara generasi tahun 1960-an. Seiring dengan kesuksesannya, timbul pula keinginannya untuk menyendiri dan pada tahun 1970-an dia menyalahgunakan narkoba, menghabiskan waktu berbulan-bulan di tempat tidur, dan makan secara berlebihan hingga beratnya lebih dari 136 kg. Terlebih lagi, Wilson kemudian menyatakan kepada publik bahwa ia sedang berjuang untuk menghadapi gangguan jiwa termasuk diagnosa skizoafektif yang melibatkan halusinasi suara, paranoid dan distorsi realitas. Musik merupakan hal yang membuatnya masih bisa bergembira dan karena alasan ini ia tak punya rencana untuk pensiun dari bidang itu; malah ia melihat ke depan untuk melanjutkan kreasi dan penampilan panggungnya.

Aku bukanlah seorang yang jenius. Aku hanyalah seorang pekerja keras.” – Brian Wilson

5.) Brooke Shields – Depresi Pasca-Melahirkan

Shields adalah seorang aktris, model, dan mantan bintang cilik Amerika yang terkenal karena perannya dalam film Pretty Baby (1978), The Blue Lagoon (1980), Endless Love (1981), dan komedi situasi Suddenly Susan. Pada musim semi 2005, Shields menyatakan kepada publik bahwa ia sedang berjuang menghadapi depresi pasca-melahirkan setelah kelahiran anak perempuannya pada tahun 2003. Penyakit tersebut diikuti oleh sebuah periode keguguran dan masalah kesuburan, kematian ayahnya, serta kelahiran anak yang traumatis. Bukunya, Down Came the Rain, merupakan catatan pengalamannya yang menyumbang peranan terhadap edukasi publik mengenai depresi pasca-melahirkan. Brooke juga mendiskusikan pengalamannya sebagai seorang anak dengan ibu pecandu alkohol dalam memoarnya yang terbit pada tahun 2015, There was a Little Girl.

Aku tak pernah menganggap terapi sebagai pertanda dari sebuah kelemahan; aku justru menemukan kenyataan yang sebaliknya. Keinginan untuk bercermin akan apa yang Anda alami dalam hidup Anda merupakan sebuah kekuatan.” – Brooke Shields

6.) Carrie Fisher – Bipolar, Penyalahgunaan Zat

Lebih dari seorang putri dari film fiksi-ilmiah Star Wars, Fisher punya rasionalitas dan kekuatan dahsyat untuk membongkar anggapan salah terhadap penyakit kejiwaan. Fisher didiagnosa mengalami gangguan bipolar pada pertengahan usia dua puluhan, Fisher tidak dapat menerima diagnosa tersebut hingga ia berusia 28 tahun setelah hampir mati karena overdosis dan kecanduan alkohol. Buku humor autobiografisnya, Wishful Drinking, merupakan tulisan dengan kisahan tokoh tunggal dan pada tahun 2010 menjadi film dokumenter panjang. Ia menulis beberapa buku termasuk novelnya yang terbit pada tahun 1987, Postcards from the Edge, yang merinci masa-masanya dalam rehab serta memoar keduanya, Princess Diarist. Tulisannya yang mentah dan jujur serta kemauannya untuk mengolah masalah-masalah yang pelik dengan keterbukaan membantu untuk mengubahnya menjadi teladan, terutama bagi mereka yang memiliki masalah kejiwaan.

Tetaplah merasa takut, namun tetap lakukan. Hal yang penting adalah tindakan. Anda tak perlu menunggu untuk menjadi percaya diri. Lakukan saja dan kepercayaan diri akan mengikuti.” – Carrie Fisher

7.) Catherine Zeta-Jones – Bipolar II

Zeta-Jones adalah seorang bintang film dari Welsh yang telah berakting, menari, dan tampil di panggung sejak ia masih kanak-kanak. Dalam usia remajanya, ia mempelajari teater musik di Arts Educational Schools di London dan menemukan kesuksesan baik di atas panggung maupun dalam layar sebelum ia pindah ke Los Angeles untuk meniti karier yang lebih tinggi. Pada tahun 1998, ia memperoleh ketenaran sebagai aktris pemeran utama dalam The Mask of Zorro dan pada tahun berikutnya dalam Entrapment. Sebagai salah satu aktris dengan bayaran tertinggi di Hollywood pada masa awal tahun 2000-an, Zeta-Jones banyak bertumpu pada pesona seksualnya, akan tetapi ia kemudian disambut secara baik sebagai aktris yang serba-bisa baik dalam film maupun panggung. Tekanan karena diagnosa kanker pada suaminya pada tahun 2011 telah membuat Zeta-Jones memeriksakan dirinya ke fasilitas kesehatan jiwa untuk mengobati gangguan bipolar II-nya. Keterbukaan akan diagnosa yang ia terima telah disambut sebagai pertanda dari adanya upaya untuk mengurangi stigma seputar masalah kejiwaan.

Jika keterbukaan saya mengalami bipolar II telah menyemangati seseorang untuk mencari bantuan, maka hal itu merupakan hal yang berharga untuk dilakukan. Tidak perlu menderita sendirian dalam diam dan tak ada hal yang memalukan dalam hal mencari bantuan.” – Catherine Zeta-Jones

8.) Charlize Theron – Gangguan Stres Pasca-Trauma (PTSD), Gangguan Obsesif-Kompulsif (OCD)

Aktris Afrika-Amerika dan produser film, Theron menerima hadiah Oscar untuk peran utamanya dalam film Monster di tahun 2003 dan dinominasikan lagi pada tahun 2005 untuk penampilannya dalam film drama bertemakan pelecehan seksual North Country. Bintang film ini telah berbicara mengenai hidupnya bersama gangguan obesesif kompulsif, yang tergolong gangguan kecemasan, namun semula ia memandang tidak ada gunanya menemui seorang terapis hingga ia mencapai usia 30-an, untuk menyembuhkan akar dari penyakitnya – yaitu perundungan (abuse) di masa kanak-kanak oleh ayahnya yang alkoholik, yang ditembak mati oleh ibunya sebagai perlindungan di kala Theron berusia 15. Selama bertahun-tahun ia menyembunyikan fakta dan berpura-pura dengan menyatakan bahwa ayahnya meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Ia mengatakan butuh waktu untuknya untuk menyadari hal dasariah dari itu semua lalu mengakui bahwa perundungan dan trauma terus berlanjut memberikan akibat buruk bagi hidupnya. Masih berakting, Theron juga meluncurkan organisasi yang misinya adalah untuk menjaga orang-orang muda keturunan Afrika dari HIV/AIDS yang bernama UN Messenger of Peace pada tahun 2008, dan kini ia hidup bersama dua anak angkatnya.

Aku pikir Anda tidak dapat menciptakan apapun yang menarik dari sebuah zona nyaman. Anda mesti berkarya dari sebuah ketakutan atau kegagalan.” – Charlize Theron

9.) Darrell Hammond – Gangguan Stres Pasca-Trauma (PTSD), Bipolar, Skizofrenia, Gangguan Kepribadian Ambang (Borderline Personality Disorder)

Hammond terkenal karena ia punya penampilan terpanjang secara berturut-turut pada acara Saturday Night Live (107 episode). Ketika ia menyatakan pensiun pada Season ke-34 ia menjadi bagian dari tim acara itu yang terakhir keluar sejak tahun 1990-an, namun berlanjut hingga ia memegang rekor untuk acara terbanyak, yaitu 280. Pada tahun-tahun yang lebih mutakhir, aktor ini berbicara tentang perjuangannya yang panjang dalam hidupnya dalam menghadapi penyakit kejiwaan – multi-diagnosis, keluar-masuk fasilitas pengobatan sejak ia berusia 19 tahun, penyalahgunaan narkoba dan alkohol, menyakiti diri-sendiri, dan brutalitas yang sistematis yang ia derita sebagai korban dari pelecehan di masa kanak-kanak. Trauma tersebut menghasilkan kilas balik pengalamannya dalam pikiran ketika syuting Saturday Night Live sebagaimana melukai diri-sendiri ketika di belakang panggung. Ia ingat bahwa pada pekan acara debat yang menampilkan Gore ia dibawa dengan jaket-ketat (straitjacket) setelah acara usai. Hammond menolak untuk merasa malu karena telah jatuh dalam kondisi kejiwaan, “Faktanya adalah aku terus berupaya untuk bangkit, dan kemudian memang aku berhasil.”

Psikiaterku yang brilian, dr. K, berkata kepadaku bahwa satu-satunya cara untuk lepas dari trauma adalah dengan memaafkan, berhenti untuk merasa terganggu dan bersikap lebih baik daripada ketika terpukul untuk pertama kalinya. – Darrell Hammond

10.) Demi Lovato – Depresi, Bipolar, Anoreksia, Bulimia, Penyalahgunaan Zat

Penyanyi, penulis lagu, dan aktris Amerika, Demi Lovato, membuat debut pertamanya sebagai seorang anak dalam Barney & Friends sebelum naik daun menjadi terkenal di tahun 2008 dalam film Camp Rock di Disney Channel serta lewat lagunya yang memuncak sebagai nomor sembilan dalam Billboard Hot 100. Kesuksesannya menghasilkan kontrak rekaman dan album Don’t Forget, yang menduduki posisi nomor dua dalam tangga lagu di Amerika Serikat. Dengan mengutip kisah panjangnya dalam menghadapi depresi, termasuk pikiran untuk bunuh diri sejak berusia tujuh tahun, karier Lovato jeda di tahun 2010 sehingga ia bisa masuk ke fasilitas pengobatan untuk gangguan makan, penyalahgunaan zat, dan perilaku menyakiti diri-sendirinya. Selama pengobatan, ia terdiagnosa memiliki gangguan bipolar – yang membuat ia akhirnya menjadi maklum mengapa ia kemudian memiliki perilaku menyakiti diri-sendiri. Lovato terus berkarya dan diganjar hadiah multi-platinum atas penjualannya dalam musik pop, ia melakukan tur keliling dunia, dan berbicara untuk isu-isu sosial seputar kesehatan jiwa, perundungan dengan kata-kata (bullying), isu LGBTQ, dan masalah hak pilih orang-orang Latin.

Jangan pernah merasa malu akan apa yang Anda rasakan. Anda punya hak untuk merasakan perasaan apapun yang Anda inginkan dan untuk melakukan apapun yang membuat Anda merasa bahagia. Itulah moto hidupku.” – Demi Lovato

11.) DMX – Bipolar, Penyalahgunaan Zat

Terlahir sebagai Earl Simmons namun terkenal sebagai professional bernama DMX, rapper Amerika ini memasuki karier bermusik pada awal tahun 1990-an. Pada tahun 1999 ia merilis album terlarisnya …And Then There Was X, yang di dalamnya termasuk lagu “Party Up.” DMX telah menjual 30 juta rekaman di seluruh dunia, membuatnya salah satu artis hip-hop terlaris di sepanjang masa. Ia juga berperan dalam beberapa film termasuk dalam Romeo Must Die, Exit Wounds, dan Last Hour. Tumbuh di Yonkers, New York, musikus ini menderita trauma akibat perundungan di masa kanak-kanak ketika tinggal di rumah bersama dan seringkali terseret dalam permasalahan hukum, penangkapan yang berulang-ulang, masa-masa dalam penjara, serta kecanduan narkoba. Pada wawancara yang lebih mutakhir, rapper ini berbicara tentang rasanya mengalami gangguan bipolar serta kesulitannya dalam memisahkan kehidupannya sebagai DMX dari kehidupan personalnya sebagai Earl Simmons.

Ada perbedaan antara bersalah dan melakukan hal yang salah.” – DMX

12.) Elyn Saks – Skizofrenia

Asisten Dekan dan Profesor Hukum, Psikologi, dan Psikiatri di Universitas Southern California, Elyn Saks telah menolak anggapan keganjilan yang dialami oleh seorang wanita yang mengalami skizofrenia. Saks adalah seorang pakar dalam hukum kesehatan jiwa dan pada tahun 2009 menerima “hibah jenius” dari Yayasan MacArthur, yang ia gunakan untuk mendirikan Institut untuk Kesehatan Jiwa, Kebijakan, dan Etika. Tujuan dari pendirian institut ini adalah untuk membantu orang dengan gangguan kejiwaan menjalani kehidupan yang penuh dan produktif, sebuah misi yang juga hadir dalam kehidupan dan perjalanan Saks melalui sistem kesehatan jiwa. Saks dirawat di rumah sakit jiwa dalam jangka yang cukup panjang sebanyak tiga kali sebagai wanita muda dengan harapan pemulihan yang binasa, yang membantunya untuk menulis autibiografinya yang memenangkan penghargaan, The Center Cannot Hold, yang terbit di tahun 2007. Saat ia bebas dari rumah sakit pada usia 30 tahun, Saks mengatakan bahwa ia masih berjuang melawan gangguan psikotiknya, tapi ia menyandarkan dirinya pada dukungan di tempat kerjanya, komunitas eratnya, serta terapi agar ia tetap sehat.

Salah satu alasan mengapa dokter merawat-inap saya di rumah sakit adalah karena saya ditetapkan sebagai orang yang ‘benar-benar tidak mampu.’ Untuk mendukung pandangan ini, mereka menulis dalam rekam medik saya bahwa saya tidak mampu mengerjakan pekerjaan rumah yang ditugaskan oleh perkuliahan Fakultas Hukum Yale. Saya heran apa makna hal tersebut padahal pada masa-masa selanjutnya saya masih berada di New Haven [yaitu kota tempat Universitas Yale berada – penerjemah].” – Elyn Saks

13.) Herschel Walker – Gangguan Identitas Disosiatif [yaitu Kepribadian Majemuk – penerjemah]

Atlet All-American yang tiga kali mendapatkan penghargaan, Herschel Walker, adalah mantan pemain rugbi professional Amerika, pelari cepat, seniman bela-diri campuran, serta atlet peselancar es Olimpiade. Kini ia sudah pensiun, ia adalah pemenang hadiah Heisman sebagai mega-bintang NFL [Liga Nasional Rugbi atau National Football League – penerjemah] pada era 1980 dan 1990-an. Perundungan kata-kata sewaktu kanak-kanak karena keterbatasan wicara, dan masalah berat badan, telah menjadi motivasi baginya untuk menjadi sehat dan kuat. Karena ia merasa dirinya adalah anak yang menderita, Walker memulai aktivitas rutin yang semakin meningkat di SLTA di mana ia bermain rugbi, bola basket, dan lari, yang membuatnya dihadiahi gelar atlet-penerima-beasiswa nasional tingkat SLTA untuk tahun 1979. Ia lulus dari SLTA sebagai siswa yang punya pencapaian akademik tertinggi dan memulai karier atletiknya sebagai pelari di Universitas Georgia. Walaupun demikian, Walker juga menyadari bahwa perundungan kata-kata yang ia terima pada masa kanak-kanak sebagai penyebab penyakit kejiwaannya yang disebut dengan istilah gangguan identitas disosiatif atau dissociative identity disorder (DID). Kepribadian ini tercipta sebagai cara untuk menangani trauma yang ia alami sebagai seorang anak-anak, namun terbawa hingga ke masa dewasanya dan tidak disadari hingga ia pensiun dari NFL. Ketika perilakunya menjadi salah dan berbahaya, Walker mencari bantuan pengobatan dan berlanjut menggunakan psikoterapi hingga hari ini untuk menjaga agar ia tetap sehat dan untuk mengembalikan hal-hal yang berbeda dalam dirinya.

Bakat yang diberikan oleh Tuhanku adalah kemampuan untuk menyatu dengan latihan lebih lama daripada orang lain.” – Hershel Walker

14.) Jim Carrey – Depresi

Aktor, komedian, penulis naskah, dan produser Amerika-Kanada, yang terkenal dengan kesan yang energik dan lawakannya yang berbentuk slapstickJim Carrey memulai kariernya di serial televisi In Living Color dan segera setelah itu ia menjadi pemeran utama dalam film Ace Ventura: Pet Detective, Dumb and Dumber, The Mask, dan Liar Liar. Pada akhir tahun 1990-an ia memulai peran yang lebih serius dan gelap dalam The Truman Show dan Man on the Moon yang membuatnya meraih hadiah Golden Globe sebagai aktor terbaik. Sebagai seorang anak, keluarga Carey mengalami kemiskinan yang ekstrem, memaksanya untuk keluar dari sekolah pada usia 15 tahun untuk menyediakan pendapatan tambahan. Sebagai seorang dewasa, Carrey telah berbicara tentang pertarungannya dengan depresi, meminum Prozac dalam jangka waktu yang lama, dan keputusannya untuk menolak narkoba, alkohol, dan stimulan apapun yang merupakan bagian dari upayanya agar tetap sehat jiwa.

Kebutuhan Anda akan penerimaan dapat membuat Anda tak kelihatan di dunia ini. Jangan biarkan apapun menghalangi cahaya yang bersinar untuk itu. Ambillah resiko untuk terbuka kepada umum dalam semua kemenangan Anda.” – Jim Carrey

15.) J.K. Rowling – Depresi

Joanne Rowling adalah seorang novelis, penulis naskah, dan produser film dari Inggris yang menciptakan serial Harry Potter yang terkenal, yang terjual 400 juta eksemplar di seluruh dunia dan menjadi seri buku terlaris dalam sejarah. Sebelum kesuksesannya sebagai seorang penulis, Rowling adalah seorang ibu tunggal yang hidup dalam kemiskinan dengan dibiayai oleh negara. Pada masa-masa ini ia didiagnosa sebagai mengalami depresi dan punya pikiran untuk bunuh diri. Dengan bantuan seorang dokter, Rowling memulai terapi pengubahan sudut pandang dan perilaku (cognitive behavioral therapy – CBT) dan menggunakan aktivitas menulisnya sebagai katarsis bagi proses penyembuhannya. Pernyataan terbuka penulis ini tentang pengalaman pribadinya merupakan sebuah upaya untuk memerangi stigma yang berkaitan dengan kondisi kesehatan jiwa dan untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa tidak usah merasa malu.

Tidak seperti makhluk lain di planet ini, manusia dapat belajar dan mengerti tanpa memiliki pengalaman. Mereka dapat berpikir untuk menempatkan dirinya dalam posisi orang lain.” – J.K. Rowling

16.) John Nash – Skizofrenia

Ahli matematika brilian dari Amerika, Dr. John Nash, telah dianggap sebagai salah satu pemikir terhebat di abad ke-20. Teorinya tentang permainan yang non-kooperatif, yang diterbitkan pada tahun 1950 dan dirujuk sebagai ekuilibrium Nash, merupakan analisa yang sederhana namun dahsyat tentang situasi kompetitif. Ia juga membuat kontribusi yang dasariah terhadap diferensial dalam geometri, penelitian tentang bagian dari persamaan diferensial, dan teorinya yang digunakan secara luas dalam bidang ekonomi. Bagian terbesar dalam pencapaiannya ia raih sebelum ia berusia 30 tahun. Pada masa-masa itulah Nash mulai menunjukkan tanda-tanda yang jelas bahwa ia mengalami gangguan kejiwaan dan dirawat inap di rumah sakit untuk mengobati skizofrenia paranoidnya. Pada tahun 1980-an ketika Nash berusia 50-an, kondisinya mulai membaik. Pada tahun 1994, ia cukup sehat untuk melakukan perjalanan ke Stockholm untuk menerima Hadiah Nobel dalam bidang Ekonomi untuk karyanya dalam teori permainan.

Perjalanan Nash dalam Skizofrenia menginspirasi penulisan buku larisnya, A Beautiful Mind, yang kemudian diadaptasikan ke dalam film dan dirilis pada tahun 2001.

Sebagaimana yang bisa Anda temukan dalam kalkulus dengan varabel yang majemuk, seringkali ada berbagai solusi bagi masalah apapun.” – John Nash

17.) Kid Cudi (Scott Mescudi) – Depresi

Scott Mescudi, yang lebih dikenal dengan nama panggungnya Kid Cudi, adalah musikus Amerika dan artis rekaman yang mendapatkan ketenaran pada tahun 2008 setelah ia merilis album lagu campurannya A Kid Named Cudi. Sejak single pertamanya “Day ‘n’ Nite,” yang mencapai lima besar di tangga lagu Billboard, Mescudi telah merilis enam album sebagai artis solo, kemudian ia memutuskan untuk membentuk kelompok musik yang terkenal sebagai WZRD, dan tampil dalam beberapa film dan acara televisi terkemuka. Mescudi telah bicara terbuka kepada publik tentang masa lalunya menyalahgunakan narkoba dan alkohol, kecanduannya terhadap antidepresan, serta perjuangannya yang tak pernah putus dalam menghadapi depresi.

Pada tahun 2016, ia secara terbuka kepada publik mengumumkan keputusannya untuk dirawat di fasilitas rehabilitasi untuk pengobatan depresi dan pikiran bunuh diri. Selain stigma yang sangat banyak yang melingkupi permasalahan kesehatan jiwa dalam komunitas rap/hip-hop, Mescudi telah berkomitmen untuk membantu orang-orang muda yang mengalami depresi dan punya pikiran untuk bunuh diri melalui kekuatan musik. Keterusterangannya telah memulai perbincangan mengenai “orang kulit hitam yang memalukan,” yang khususnya, dihadapi ketika melawan [anggapan keliru] tentang penyakit kejiwaan dalam budaya di Amerika. Penggemarnya telah menunjukkan dukungan yang sangat banyak akan keputusannya untuk terbuka kepada publik berkaitan dengan kondisi kesehatan jiwanya serta mendobrak halangan dalam arus-utama industri musik hip-hop.

Kadang-kadang Anda berpikir untuk menghilang, namun yang Anda butuhkan sebenarnya hanyalah ingin ditemukan.” – Kid Cudi

18.) Kay Redfield Jamison – Bipolar

Karya dari psikolog klinis, penulis, dan profesor psikiatri Amerika di Universitas John Hopkins mengkhususkan diri terutama pada gangguan alam perasaan, dengan tambahan perspektif dari orang dalam sejak ia menyadari bahwa ia adalah orang dengan bipolar. Awal dari perjuangannya menghadapi gangguannya bermula di masa akhir dewasa muda, namun itu tidak terdiagnosa bahkan selama ia kuliah psikologi dan punya ketertarikan dalam hal gangguan alam perasaan. Tiga bulan selama menjalani pekerjaan pertamanya sebagai professor di Departemen Psikologi UCLA, Jamison baru terdiagnosa dan disarankan untuk minum litium untuk mengobati gangguan alam perasaannya, sesuatu yang ia tolak pada waktu itu, karena menimbulkan gangguan motorik bagi dirinya. Pengalamannya sebagai professional medis dalam bidang bipolar mulai dari kulit hingga intinya, awal ia terkena gangguan ini, episode manianya, episode depresinya, dan usaha bunuh dirinya merupakan catatan-catatan dalam memoarnya, An Unquiet Mind. Buku Jamison, Touched with Fire, menjelajahi kaitan antara gangguan bipolar dengan individu dan keluarga yang punya pencapaian tinggi atau pencapaian artistik.  

Aku memutuskan pada kuliah pasca-sarjanaku bahwa aku perlu melakukan sesuatu untuk gangguan alam perasaanku. Keputusan ini secara cepat mewujud menjadi pilihan antara menemui psikiater atau membeli seekor kuda. Karena aku tahu bahwa setiap orang yang kukenal akan menemui psikiater, dan karena aku tahu bahwa aku punya keyakinan mutlak bahwa aku harus menangani masalahku secara mandiri, maka secara serta-merta aku membeli seekor kuda.” – Kay Redfield Jamison

19.) Lena Dunham – Gangguan Obsesif-Kompulsif, Kecemasan, Depresi

Lena Dunham adalah aktris, penulis, produser, dan sutradara Amerika yang terkenal akan kreativitasnya dalam serial HBO Girls. Untuk karya pertunjukannya, Dunham telah menerima dua hadiah Golden Globe dan pada tahun 2013 menjadi wanita pertama yang memenangkan the Directors Guild of America Award untuk Penyutradaraan yang Luar Biasa dalam Serial Komedi. Jalan terobosan dalam karier Dunham hadir bersama film autobiografis Tiny Furniture pada tahun 2010, yang memenangkan beberapa penghargaan termasuk Naskah Film Pertama Terbaik dari Independent Spirit Awards. Banyak dari karyanya mencatat perjuangan yang harus ia hadapi sejak ia berusia muda: “Aku tak ingat masa-masa ketika aku bebas dari kecemasan.” Dunham menjadi pembela dalam penyadaran kesehatan jiwa dalam jangka yang panjang, yang mendokumentasikan pengalaman personalnya melalui media artistiknya, ia juga bicara secara terbuka tentang dampak dari kecemasannya, gangguan obsesif-kompulsif, dan manfaat dari meminum antidepresan.

Tidak ada orang yang berani bagi saya selain seseorang yang mengumumkan bahwa kisah mereka adalah kisah yang layak untuk dituturkan, terutama jika orang tersebut wanita.” – Lena Dunham

20.) Mike Wallace – Depresi

Wartawan, aktor, dan reporter media Amerika, Mike Wallace, terkenal sebagai salah satu reporter di masa awal program televisi CBS 60 Minutes, acara di mana ia mewawancarai banyak sekali politisi, selebritas, dan tokoh akademik. Setelah 37 tahun bersama program ini, ia pensiun namun melanjutkan diri bekerja untuk CBS News sebagai koresponden yang tidak bertugas secara rutin. Karyanya sebagai reporter telah membuatnya dianugerahi 21 Emmy Awards, Robert F. Kennedy Journalism Award, tiga George Foster Peabody Awards, dan sebuah Lifetime Achievement Emmy pada tahun 2003. Wallace membuat sejumlah pemimpin dunia gugup di kursi wawancara, namun ia juga terkenal dengan kekuatan dan keberaniannya dalam hal meliput penderitaan orang dengan depresi dan masalah kesehatan jiwa lainnya. Stigma seputar masalah depresi telah membuatnya tidak terdiagnosa dan tidak terobati dalam jangka waktu yang lama, mengarahkannya pada upaya bunuh diri dan akhirnya terapi dan obat medislah yang membuatnya melalui depresi berat pada tahun 1980-an. Selama ia mengalami episode tambahan dalam hidupnya, ia berkomentar tentang bagaimana pengalamannya telah mengubah dirinya; “Saya menjadi lebih empatik, saya lebih pengertian, dan terutama, hidup saya menjadi lebih punya banyak anugerah karena mengalami hal tersebut.”

Semua senjata yang aku punya adalah penelitian.” – Mike Wallace

21.) Oprah Winfrey – PTSD, Anxiety

Ikon media massa, pembawa acara televisi, aktris, produser, dan dermawan, Oprah Winfrey, lebih terkenal dengan acaranya The Oprah Winfrey Show, yang merupakan program televisi dengan rating tertinggi dalam kategori gelar-wicara di sepanjang masa. Ia merupakan orang Amerika Utara pertama dan satu-satunya milyarder keturunan Afrika-Amerika serta telah dijuluki sebagai dermawan kulit hitam terbesar dalam sejarah Amerika. Pada tahun 2013, Presiden Barack Obama menganugerahi Oprah dengan Presidential Medal of Freedom.

Jauh sebelum masa kesuksesannya, Oprah mengalami trauma dan duka yang sukar untuk dipercaya. Ia lahir dalam kemiskinan di pedesaan Mississippi dari seorang ibu tunggal yang masih remaja, Oprah dilecehkan secara fisik oleh neneknya, dilecehkan secara seksual pertama kali sewaktu berusia sembilan tahun oleh sepupunya, dan diperkosa berkali-kali yang membuatnya mengandung pada usia 14 tahun, bayinya meninggal ketika masih janin. Keputusan Oprah untuk membagikan pengalamannya secara publik, dan menjelajahi perundungan (abuse) dalam budaya Amerika, telah membuatnya fokus dan mampu memahami dengan baik kisah-kisah korban yang tidak terhitung banyaknya.

Aku berkata kepadamu bahwa tidak ada kegagalan dalam hidupku. Aku tak bermaksud menuturkan hal ini seolah-olah aku adalah ratu dari hal-hal abstrak, namun tidak ada kegagalan. Yang ada adalah banyak sekali pelajaran yang bisa dipetik.” – Oprah Winfrey

———
CATATAN: Ini adalah karya kolaboratif yang dihasilkan oleh HealthyPsych, dengan penelitian, penulisan, dan bantuan penyuntingan dari Elana Baumann-Carbrey dan Kim Pratt, LCSW.

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.