Bebas dari Pasungan: Lukisan, Puisi, dan Narasi (oleh Anto SG & Erminia Colucci)

Pasung really tortured me. It crushed my feelings, my dignity and my sense of self. 
                                                                  — (Anto SG). 
 
Anto SG adalah orang yang sangat cerdas, akan tetapi ia punya perasaan yang sangat halus. Adalah sulit bagi orang muda seperti dia untuk menerima bahwa cita-citanya hancur karena orang tuanya tidak mampu membiayainya kuliah. Walaupun kemudian ia terbukti mampu membiayai kuliahnya secara mandiri dengan cara bekerja, namun kemudian tubuhnya, dan bukan pikirannya, yang kemudian jatuh dalam kelelahan. 
 
Namun ia bukanlah orang yang mudah patah arang, segala cara ia lakukan untuk terus bertahan dalam kehidupan ini, termasuk untuk membuktikan bahwa ia tidaklah seperti stigma yang ia terima dari para tetangganya setelah ia mengalami gejala kejiwaan. Anto bukan hanya dipasung sekali, tapi telah dipasung berkali-kali oleh keluarganya (termasuk dua kali setelah Erminia Colucci, yang juga ikut menulis jurnal ini, pulang setelah mengunjunginya). 
 
Kecerdasan emosionalnya juga yang juga membuatnya kemudian memaafkan semuanya dan menerima bahwa mungkin keluarganya tidak mengerti, dan pasung adalah salah satu bentuk agar ia tak mengalami hal-hal yang lebih membahayakan diri sendiri dan orang lain. 
 
Tulisan di jurnal ini sangat berani, sepanjang pengetahuan saya, hanya Anto SG yang dengan terbuka dan kefasihan tulisnya yang luar biasa (dalam Bahasa Inggris!), bertutur soal penderitaannya mengalami pemasungan. Akhirnya kita harus sepakat dengan kata-kata Erminia Colucci pada penutup artikel di jurnal ini bahwa: 
 
Kisah personal penyintas (survivor) pasung seperti Anto, berperan secara dahsyat untuk menimbulkan pengertian akan dampak membinasakan dari pasung terhadap seseorang dan keluarganya dan berperan sebagai perangkat pembelaan berkekuatan besar untuk menghapus praktek ini, di Indonesia dan di banyak negara-negara lain di mana bentuk-bentuk pengekangan dan pembatasan masih terjadi dan dilakukan dengan bermacam-macam cara, termasuk di tempat-tempat yang disebut sebagai “negara-negara maju.”

[“Personal stories of ‘pasung survivors’ such as Anto’s, powerfully contribute to understanding the devastating impact that pasung has on the person and their families and act as a powerful advocacy tool for the elimination of these practices, in Indonesia and in the many other countries where various forms of restraints and confinements still occur, including the so-called ‘developed countries’.”]


Artikel asli dalam Bahasa Inggris sederhana, dapat dibaca langsung atau diunduh dari link di bawah ini.

 
 

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan