Buku-Buku Terbaik tentang Gangguan Jiwa Pilihan ODGJ

 

Artikel asli dalam Bahasa Inggris 18 Book Characters That Accurately Represent Mental Illness ditulis oleh Farrah Penn (staf penulis di Buzzfeed) yang diposting pada tanggal 3 Oktober 2017 dapat dilihat di https://www.buzzfeed.com/farrahpenn/book-characters-that-accurately-represent-mental-illness?utm_term=.hv2Z7xdr7z#.dsVpnk80nB

Kami bertanya pada anggota Komunitas BuzzFeed untuk menceritakan kepada kami sebuah buku yang menggambarkan masalah/gangguan jiwa mereka secara benar-benar nyata. Berikut ini adalah pendapat mereka:

  1. Fans of the Impossible Life oleh Kate Seelsa

“Ada tiga tokoh utama, dan sekurang-kurangnya dua dari mereka memang benar-benar mengalami masalah kejiwaan. Mira, salah satu tokoh utama itu, mengalami depresi, dan buku tersebut menceritakan pengalaman baik dan buruk dari dirinya itu. Buku ini juga menjelaskan betapa pentingnya dukungan dari orang tua dan orang-orang di sekeliling mereka, buku ini juga menceritakan bahwa tidak pernah ada hari ketika kondisi 100 % lebih baik tapi yang ada hanya sekadar sedikit lebih baik. Buku ini juga menceritakan dengan mengena tentang warna karakter orang dan keanehan-keanehannya.”

doesthiswork

  1. Symptoms of Being Human oleh Jeff Garvin

“Saya sangat suka dengan Symptoms of being Human yang ditulis oleh Jeff Garvin karena saya menjadi bisa melihat kata-kata yang benar-benar menggambarkan bagaimana rasanya diserang oleh kecemasan seperti yang saya alami sendiri.

turnerfc

  1. Kissing Doorknobs oleh Terry Spencer Hesser

“Saya membaca buku karya Terry Spencer Hesser’s Kissing Doorknobs ketika saya di SLTP. Saya didiagnosa dengan OCD [Obsessive-Compulsive Disorder – yaitu gangguan yang bercirikan pemikiran yang menyiksa sehingga merasa wajib (kompulsif) untuk melakukan ritual tertentu – penerjemah] yang akut pada kelas 5 dan mengalami kompulsi yang banyak kesamaannya dengan narator pada buku ini, yang bernama Tara. Pada suatu waktu dalam hidup saya saya merasa benar-benar hidup sendirian, buku ini membuat saya merasa punya kawan. Saya tidak pernah merasa punya banyak kesamaan dengan orang lain selain dengan Tara Sullivan. Buku ini membuat saya sadar bahwa saya tidak segila seperti yang ditekankan oleh perlakuan berbeda yang kawan sekelas saya coba terapkan, dan bahwa ada anak-anak lain yang hidup dengan gangguan yang sama seperti yang saya alami.

leahb4da387df5

  1. The Silver Linings Playbook oleh Matthew Quick

“The Silver Linings Playbook karya Matthew Quick telah banyak membantu saya. Tidak masalah bagaimanapun hubungan diri saya dengan gangguan bipolar, saya dapat menunjuk pada berbagai titik yang berbeda dalam hidup saya dan masih menemukan kaitannya dengan isi buku itu. Ketika saya depresi, manik, atau stabil, saya selalu membacanya dan menjadi merasa sedikit normal. Saya telah membaca banyak buku tentang gangguan jiwa, namun buku ini mutlak merupakan yang terbaik bagi diri saya.”

samanthap4c2d3b93c

  1. Prozac Nation oleh Elizabeth Wurtzel

Prozac Nation! Tidak ada karya lain yang dapat menggambarkan depresi secara lebih baik daripada novel ini.”

madi2002

  1. Fangirl oleh Rainbow Rowell

“Sebagai seseorang yang tumbuh dengan kecemasan dan merupakan seorang ayah dari anak yang telah dirawat di rumah sakit berkali-kali karena gangguan bipolar, saya menemukan keterkaitan dengan Fangirl karya Rainbow Rowell melebihi keterkaitan dengan buku lain yang pernah saya baca sebelumnya. Buku ini menunjukkan dampak dari masalah kejiwaan, bukan hanya bagi orang yang mengalaminya namun juga bagi orang-orang di sekeliling mereka, dan setiap kali saya membacanya saya menjadi merasa lebih sedikit optimistik dan menjadi merasa punya kawan.”

b4f9c737fb

  1. The Bell Jar oleh Sylvia Plath

“Saya membaca buku ini pada musim panas setelah saya dirawat untuk masalah depresi, kecemasan, dan niat untuk bunuh diri, sesaat sebelum saya lulus dari universitas. Saya menemukan keterkaitan erat dengan Esther Greenwood. Saya selalu menargetkan sesuatu dengan sangat tinggi, dan saya berpikir bahwa saya harus menjadi sempurna, yang menimbulkan depresi dan kecemasan sejak saya berusia 12 tahun. Semua kutipan dan kiasan yang Plath gunakan dengan telak menendangku – mulai dari mengukus toples yang berbentuk bel (bell-jar), hingga pohon ara dengan semua pilihan di masa depan yang menjadi layu, dan terutama ketika Esther merenung bahwa ‘Aku selalu merasa tak pernah cukup. Hanya saja, aku tak pernah berpikir soal itu sebelumnya.’ Melihat hal-hal dari sudut pandang Esther telah membantu saya memahami diri dan penyakit saya secara lebih baik, hal itu membantu mengubah pemikiran negatif tentang diri saya dan berdampak positif pada pemulihan saya.”

brittanym4f4d5223e

  1. The Upside of Unrequited oleh Becky Albertalli

“Tokoh utama dalam buku ini, Molly, mengalami gangguan kecemasan. Ia mengingatkan banyak hal kepada diri saya sendiri karena saya berharap mampu untuk menjalin relasi secara lebih baik dengan orang lain. Pada puncaknya, saya merasa bahwa saya bisa menjadi dia, saya bisa menjadi siapa saja, dan saya bisa menjadi diri sendiri.

melissac47ff6181c

  1. It’s Kind of a Funny Story oleh Ned Vizzini

“Buku ini tidak meromantiskan tentang permasalahan dalam kesehatan jiwa, dan buku ini telah mengajari saya bahwa akan baik-baik saja jika mengakui ada sesuatu yang salah dan bahwa tidak ada hal yang memalukan dari upaya mencari bantuan. Seorang kawan saya menyarankan buku ini kepada saya ketika dia menyadari bahwa saya tidak baik-baik saja, dan menggunakannya sebagai pemecah kebekuan untuk menyuruh saya mencari bantuan. Saya merasa sangat dekat dengan depresi yang dialami oleh tokoh utamanya, dan menemukan bantuan melalui terapi sangat membuat nyaman karena hal itu adalah mirip seperti yang disebutkan dalam buku ini untuk diri saya.”

notadisneyprincess

  1. We Are The Ants oleh Shaun David Hutchinson

“Buku ini tidak hanya bercerita secara langsung tentang bunuh diri dan niat untuk melakukannya, namun juga bercerita tentang PTSD [gangguan stres pasca-trauma], kecemasan, depresi, kepribadian majemuk, dan pengubahan aset menjadi milik swasta (denationalization) dengan cara yang sangat kreatif. Buku ini merupakan buku yang sangat memelintir-perasaan dari semua buku yang pernah saya baca, dan saya benar-benar membacanya dengan sangat lahap. Buku ini juga bercerita tentang tokoh-tokoh lainnya yang berbeda, termasuk tentang gay secara terbuka. Saya teramat suka dengan buku ini.”

mellyg36

  1. The House on Mango Street oleh Sandra Cisneros

“Ini mungkin merupakan hal yang aneh, namun The House on Mango Street karya Sandra Cisneros adalah sebuah cerita yang benar-benar menggambarkan dengan baik masalah kejiwaan saya. Menurut saya, Esperanza memiliki masalah dengan citra-diri dan terlihat sedikit cemas dan depresi. Cara penulisan kisah dalam buku ini sangat mengagumkan dan saya sangat gembira saya telah menemukan sebuah buku yang sangat dekat dengan diri saya.”

alip4260fffc2

  1. The Perks of Being a Wallflower oleh Stephen Chbosky

“Buku ini bertutur tentang serangkaian masalah kesehatan jiwa, terutama depresi, kecemasan, dan PTSD [gangguan stres pasca-trauma]. Saya tak dapat menanggapi tentang sisi PTSD dalam buku ini, namun sisi depresi dan kecemasannya benar-benar sesuai dengan diri saya. Charlie tidaklah baik-baik saja, dan ia berusaha sekuat tenaga untuk menemukan bagaimana memecahkan masalahnya itu. Ia menemukan solusinya dengan caranya sendiri, ia menghantam dirinya sendiri dengan tanpa-henti melalui kesalahan dan kelemahan, ia merasa terisolasi dalam ruangan yang penuh dengan manusia… Walaupun ia telah berusaha dengan keras, namun ia kembali mundur ke kondisi yang semula. Charlie tidaklah baik-baik saja, namun ia menyadari adalah mungkin untuk mengalami kondisi yang baik dan tidak baik pada waktu yang bersamaan. Dan hal itu adalah kondisi yang tidak perlu dipersalahkan.”

musicismytherapy97

  1. Wintergirls oleh Laurie Halse Anderson

Wintergirls karya Laurie Halse Anderson memberikan gambaran secara nyata tentang gangguan makan. Mulai dari pemikiran tentang penyakitnya hingga bagaimana hal itu bisa mempengaruhi relasi Anda dengan orang lain. Para tokoh utama buku ini menderita baik hal yang positif maupun hal negatif tentang penyakit ini. Mereka bukan cuma sekadar korban dari gangguan yang mereka alami.  Mereka bukan cuma egois belaka.”

audreyl45a6bb86a

  1. The Memory of Light oleh Francisco X. Stork

“Buku ini menakjubkan karena mengingatkan saya kepada semua orang yang percaya bahwa selalu ada kondisi yang cerah setelah kegelapan yang menjadi bagian dari hidup Anda. Buku ini juga mengingatkan kita mengenai gangguan depresi yang mungkin selalu ada bersama hidup Anda, namun bersama waktu ternyata kondisinya memang membaik. Buku ini memfokuskan pada pemulihan mulai dari titik yang rendah ketimbang menitikberatkan pada adanya titik yang rendah tersebut, dan hal itu merupakan hal yang penting.”

ericaalicem

  1. Every Last Word oleh Tamara Ireland Stone

“Buku ini sangat nyata ketika menuturkan bagaimana rasanya mengalami gangguan obsesif-kompulsif, dan itu membantu saya mengakuinya kepada diri saya sendiri bahwa bahkan ketika Anda memiliki masalah kejiwaan, itu tak berarti Anda tak dapat hidup seperti orang kebanyakan. Tambah lagi, ada jalan cerita yang tiba-tiba berbelok dan kisah cinta yang bermakna saru. Buku favorit di sepanjang hidup saya!”

sarailopez1028

  1. Girl In Pieces oleh Kathleen Glasgow

“Menyakiti diri sendiri itu nyata menurut apa yang Kathleen Glasgow tulis. Anda baik-baik saja dalam waktu yang lama, dan kemudian penyakitnya mulai datang. Pada titik terendahnya, Anda merasa begitu kacau dan begitu salah sehingga Anda merasa diri Anda meledak dan menyakiti diri Anda sendiri dengan demikian buruknya. Saya suka tokoh Charlie, saya merasa seolah-olah dia bersama saya di setiap langkah menuju pemulihan, tidak mengkritik ketika saya tersandung atau mengalami kemunduran beberapa langkah. Ia baik dan suportif karena ia tahu benar bagaimana rasanya. Pengalaman saya membaca buku ini membikin saya begitu meluap dan merasa termurnikan.”

protoman

  1. My Heart and Other Black Holes oleh Jasmine Warga

Tokoh Aysel dalam My Heart and Other Black Holes karya Jasmine Wanga menggambarkan depresi sebagai endapan hitam, dan itu benar-benar dengan tepat melukiskan bagaimana rasanya. Kutipan ini: ‘Depresi itu seperti gravitasi dan Anda tidak akan dapat membebaskan diri darinya. Ia menghancurkan dirimu, membuat bahkan hal-hal yang terkecil seperti mengikat tali sepatu atau mengunyah roti seperti mendaki bukit sejauh dua puluh mil’ merupakan gambaran yang paling nyata yang pernah saya temui.”

mariahhouse1

  1. All The Bright Places oleh Jennifer Niven

“Gambaran Tokoh Finn dalam All The Bright Places tentang gangguan bipolar merupakan gambaran yang paling akurat mengenai penyakit itu. Cara dia bertutur tentang tertidur dan kemudian terjaga adalah cara paling sederhana untuk melukiskan depresi dan mania, hal itu demikian tepatnya mengkiaskan seperti apa rasanya mengalami kedua episode tersebut.”

meganh40ca68328

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply