Delapan Orang dengan Pengalaman Kejiwaan Luar Biasa dan Buku/Film (tentang) Mereka

 

Dikutip dari buku Susan Nolen-Hoeksema, Abnormal Psychology, Fifth Edition. McGraw-Hill. New York: 2011

1. Clifford Beers, “A Mind That Found Itself.”

Clifford BeersClifford Beers mulai terganggu mood-nya saat ia melihat saudara kandung lelakinya menghadapi akhir hidupnya di rumah karena saudaranya itu mengalami kejang-kejang yang parah. Setelah berupaya untuk bunuh diri, ia kemudian dimasukkan ke rumah sakit jiwa swasta.

Pada tahun 1900-an tidak ada pengobatan yang efektif bagi gangguan seperti yang dialami Beers. Dan perlakuan di rumah sakit jiwa pada masa itu sangatlah tidak manusiawi. Setelah dirawat selama 3 tahun ia kemudian diperbolehkan pulang, dan merasa pengalamannya berharga ia kemudian menulis buku A Mind That Found Itself, yang juga bercerita bahwa perlu ada perubahan dalam sistem kesehatan jiwa sehingga layanan bagi orang dengan gangguan jiwa seperti dirinya lebih manusiawi. Gerakan yang dipelopori oleh Beers dinamai mental hygiene movement.

2. Marya Hornbacher, “Madness”

Marya HornbacherPada usianya di akhir 20-an, Hornbacher akhirnya dapat menguasai penyakitnya. Beberapa tahun sebelumnya, ia menulis buku yang berjudul Wasted yang merupakan kisah pertama bagaimana ia mengalami gangguan bulimia dan anoreksia nervosa. Pada tahun 2008 ia menulis buku baru yang mengisahkan dirinya yang berjudul Madness yang mengisahkan bagaimana ia hanya meminum minuman keras dan tanpa makan dalam kesehariannya. Hornbacher kelihatan sebagai wanita yang sangat energik, kecuali jika ia berada dalam kondisi depresi yang membuatnya bisa tak bangun dari tempat tidur selama berhari-hari.

3. Anna O., “Studies on Hysteria.”

Anna OAnna O adalah seorang wanita dari Wina, Austria yang kasusnya merupakan kasus ternama dalam dunia kesehatan jiwa. Ia bernama asli Bertha Pappenheim. Anna pertama kali terkena serangan masalah kejiwaan setelah ayahnya sakit keras dan meninggal. Catatan dari Josef Breuer, terapisnya, menyatakan bahwa sebelum ayahnya sakit keras ia tidak mengalami gejala kejiwaan. Breuer berkata bahwa masalah kejiwaan yang dialami oleh Anna sama sekali tak punya sebab fisik. Anna mengalami sakit kepala yang hebat, pusing dan gangguan penglihatan, tak bisa menggerakan kepala dan lehernya, dan kebas serta kontraksi pada lengan kanan bawah. Sebagai terapisnya, Breuer mengadakan pengobatan dengan “penyembuhan melalui wicara” yaitu ia disuruh berbicara apa saja yang terlintas dalam pikirannya. Ia pulih dalam jangka waktu 18 bulan.

Breuer dan Freud kemudian menuliskan kasus Anna O dan terapi wicaranya tersebut dalam sebuah buku, yang tekniknya itu kini dinamai psikoterapi, sebuah terapi yang khas bagi penganut psikoanalisis.

Anna O, melanjutkan hidupnya sebagai seorang pengacara bagi kaum miskin dan minoritas Yahudi.

4. Kay Redfield Jamison, “An Unquiet Mind.”

Kay Redfield Jamison

Kay mulai terserang gangguan bipolar saat di SMA. Pada saat manik ia merasa punya banyak energi, tidak pernah merasa mengantuk, dan berada dalam lautan ide. Ia juga sangat aktif dalam olahraga dan terus menerus terjaga sampai beberapa hari. Ia berbicara dengan sangat cepat ketika manik, sehingga sangat sulit untuk ditangkap maksudnya. 

Pada keadaan depresi ia melambat dan melambat. Pikirannya sangat jauh dari jernih, menyiksa. Ia akan membaca satu halaman berulang-ulang karena ia merasa tak dapat mengingat apa yang dikatakan oleh bacaannya. Ia kehilangan segala aktivitas yang menyenangkan, sulit berkonsentrasi, dan banyak memikirkan kematian. Ia merasa hidup ini singkat dan tanpa arti. Butuh waktu dua kali lebih lama untuk berjalan ke suatu tempat, dan ia mengenakan pakaian yang sama berulang-ulang, karena ketika akan bersalin ia tak bisa membuat keputusan apa yang harus ia pakai. Ia menghindari pertemuan dengan kawan-kawannya sebisa mungkin. Yang ia lakukan hanyalah diam, dengan hati yang mati dan otak yang dingin. (Jamison, 1995, pp. 35–38).

5. John Nash, “A Beautiful Mind.” [Sudah difilmkan]

John NashJohn Nash sangat terkenal sebagai Profesor Matematika dari Massachusetts Institute of Technology (MIT). Saat masih menjadi mahasiswa pascasarjana di Princeton ia memperkenalkan “the notion of equilibrium to game theory,” yang merevolusi bidang ekonomi dan membuatnya dianugerahi Hadiah Nobel. Seorang penulis, Sylvia Nasar menuliskan detail hidupnya itu dalam sebuah biografi yang sangat terkenal dan kemudian difilmkan dengan judul A Beautiful Mind. 

Nash dalam pengalaman waham dan halusinasinya pernah menyurati PBB, FBI, dan organisasi pemerintahan lainnya yang mengeluhkan adanya konspirasi yang akan mengambil alih dunia. Ia juga menyatakan bahwa ada kekuatan dari luar negeri atau luar angkasa yang sedang berkonspirasi melalui komunikasi di halaman muka New York Times.

Istrinya, Alicia, merupakan kekuatan lain yang mendukung pemulihan Nash dari skizofrenia paranoid yang dideritanya itu. Walaupun pernah bercerai, mereka rujuk lagi kemudian. Kini, Nash membantu perawatan anaknya, Johnny, yang juga mengalami skizofrenia paranoid. Johnny meraih gelar Ph.D dalam bidang matematika beberapa tahun yang lalu.

6. Susanna Kaysen, “Girl, Interrupted.” [Sudah difilmkan]

Susanna KaysenSusanna Kaysen masih berusia 18 tahun saat ia mengalami depresi dan hanyut dalam kehidupan yang membuatnya bertentangan dengan guru sekolah dan orang tuanya. Dia mencoba bunuh diri dan kemudian dirumahsakitkan selama kurang lebih dua tahun. Kemudian ia menemukan bahwa diagnosanya adalah gangguan kepribadian ambang (borderline personality disorder). Walaupun dalam biografinya Girl, Interrupted ia banyak mempertanyakan diagnosanya itu. Beberapa orang berpendapat bahwa ia justru tidak menjadi lebih parah karena perawatan di rumah sakit itu membuat kondisinya lebih baik.

7. Temple Grandin, “Temple Grandin: Thinking in Pictures.” [Sudah difilmkan].

Temple Grandin Dr. Temple Grandin, adalah profesor dalam ilmu hewan di Colorado State University, yang sudah mendesain sepertiga fasilitas peternakan yang ada di Amerika Serikat. Dia telah menuliskan lusinan jurnal ilmiah dan memberikan kuliahnya di seluruh dunia. Grandin adalah orang dengan autisme. Pada saat bayi ia tak mau dipeluk oleh ibunya, dan tenang jika ia dibiarkan sendiri. Sebagai seorang anak ia tak mau kontak mata dengan orang lain dan kelihatan tak tertarik dengan dunia sosial. Dia seringkali marah hebat (tantrum). Dia dapat duduk selama berjam-jam di pantai dan memainkan pasir di tangannya. Dokternya mendiagnosanya sebagai orang yang punya kerusakan otak, karena pada saat itu dunia kedokteran belum mengenal apa itu autisme. 

Grandin punya skor IQ setinggi 137, tapi ia seringkali dikeluarkan dari sekolah regular, karena ia tak cocok dengan metode pendidikan di sana. Ia memaksa untuk masuk ke universitas, dan karena kecerdasannya ia kemudian meraih gelar Ph.D dalam bidang ilmu hewan.

Walaupun Grandin berhasil dalam karirnya, tapi hingga sekarang ia seringkali kesulitan dalam hal memahami emosi dan interaksi sosial dengan orang lain. Namun ia mengatakan dengan bangga: “Jika saja aku dapat menjentikkan jariku dan menjadi orang yang tidak autistik, aku tak mau. Autisme adalah bagian dari diriku.” (halaman 60).

8. John Bayley and Iris Murdoch, “Elegy for Iris.”

Iris MurdochSebagai wanita muda yang mengajar filsafat di Universitas Oxford, Iris Murdoch bertemu dengan John Bayley, seorang sarjana sastra Inggris. Mereka saling jatuh cinta dan menikah dua tahun kemudian. Mereka kemudian menetap di Oxford, tempat Bayley menjadi pengajar dan kritikus sastra terkemuka. Murdoch menulis 26 novel dan beberapa buku teks dalam bidang filsafat dan saat ini dianggap sebagai salah satu penulis terbesar pada abad ke-20. Dua orang raksasa ini berbagi bersama dalam kehidupan dan cinta yang merupakan hal yang luar biasa untuk hasrat, kekariban, dan kegembiraannya. 

Pada tahun 1994, setelah menikah selama 40 tahun, Murdoch mengalami penyakit Alzheimer. Sang novelis ulung berubah drastis mengkerut menjadi seorang yang dihantam penyakit dan dukacerita. Bayley kemudian menulis Elegy for Iris, yang antara lain tertulis, “ Alzheimer itu seperti kabut yang tak kelihatan, tak dapat terlihat hingga segala sesuatu di sekitarnya menghilang. Setelah saat itu, tak lagi mungkin untuk percaya bahwa dunia di luar kabut itu benar-benar ada.” 

Iris Murdoch wafat pada bulan Februari 1999, hanya beberapa bulan setelah Elegy for Iris diterbitkan.

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan