Depresi Berbeda pada Pria. Gejala dan Bantuan Tidak seperti pada Wanita

oleh Elizabeth Bernstein di Situs Wall Street Journal.

Depresi pada pria lebih jarang dibandingkan dengan wanita menurut statistik. Akan tetapi mungkin angka seperti itu muncul karena pria tidak menceritakan perasaan mereka dan cenderung tidak mencari bantuan.

Saya khawatir akan kawan saya. Dia berhenti merespon SMS dan telepon dari teman-temannya dan kelihatan mudah tersinggung dan gugup ketika kami mengunjunginya. Dia mengeluhkan bahwa ia mengalami susah tidur, tanpa tenaga, dan kekurangan motivasi. Kami bertanya apa kabarnya dan dia berkata, “Aku bukan diriku.” “Aku sedang tenggelam.”

Dia sedang depresi. Saya tak tahu bagaimana caranya menolong dia.

Statistik menyatakan bahwa pria lebih jarang depresi dibandingkan dengan wanita. Pada tahun 2014, 4,8 % pria berusia 18 tahun atau lebih di Amerika Serikat mengalami setidaknya satu episode depresi berat pada tahun sebelumnya, dibandingkan dengan 8,2 % pada wanita dengan kelompok usia yang sama, menurut Survei Nasional tentang Obat dan Kesehatan yang dilakukan oleh Lembaga Layanan Penyalahgunaan Zat dan Kesehatan Jiwa (Substance Abuse and Mental Health Services Administration).

Akan tetapi para ahli khawatir bahwa angka ini tidak menggambarkan keseluruhan masalah. Pria cenderung tidak suka untuk menceritakan perasaannya atau mencari pengobatan untuk depresi.

Para psikiater dan professional kesehatan mendefinisikan gangguan depresi berat sebagai gangguan dengan syarat mengalami lima atau lebih gejala selama dua pekan: perasaan murung pada sebagian besar waktu, mudah tersinggung, berkurangnya minat atau kenikmatan pada banyak kegiatan, perubahan yang berarti pada berat badan dan selera, perubahan dalam hal tidur, perubahan pada aktivitas fisik seperti banyak bergerak ataupun berkurang aktivitas fisiknya, kelelahan atau kehilangan tenaga, merasa bersalah atau tidak berguna, perubahan pada konsentrasi dan memikirkan kematian berulang-ulang.

“Perasaan terkalahkan itu menjadi sebab mengapa
pria biasanya menarik diri dan mengurung diri,”
kata Donald Malone, seorang psikiater dan
kepala bagian psikiatri dan psikologi di Klinik Cleveland.

Wanita seringkali menginternalisasi depresi pada dirinya – menitikberatkan pada gejala-gejala emosional, seperti rasa tidak berguna atau menyalahkan diri sendiri, demikian kata para ahli. Sementara pria menolak ke luar semua itu dan hanya berkonsentrasi pada hal-hal yang fisiknya saja. Pria biasanya tidak menangis atau mengatakan kalau perasaan mereka sedang sedih. Mereka merasa kebal dan mengeluhkan susah tidur, merasa tertekan atau kehilangan tenaga. Seringkali, mereka menjadi mudah tersinggung dan marah.

Beberapa pria tidak menyentuh perasaan mereka. Akan tetapi masalah yang lebih besarnya adalah bahwa pria telah dikondisikan untuk tidak membicarakan hal tersebut. “Ada keyakinan bahwa mereka sudah seharusnya mengendalikan masalah emosi mereka dan bahwa mengalami depresi dapat dipandang sebagai pertanda kelemahan,” kata Jeffrey Borenstein, seorang psikiater dan presiden dari Yayasan Otak dan Perilaku di New York. Pria diharapkan untuk menangani masalah-masalah mereka sendiri tanpa bantuan orang lain.

Pertanda kelemahan ini dapat membuat depresi menjadi lebih buruk, kata para terapis. “Bagi wanita, depresi merupakan pertanda untuk mendapatkan pertolongan, bahwa kebutuhan akan hal itu sudah seharusnya dilakukan dengan sebuah cara yang mendasar,” kata Nando Pelusi, seorang psikolog klinis di New York. “Bagi pria, hal itu merupakan pertanda bahwa mereka gagal dan menjadi kalah.”

Perasaan terkalahkan itu menjadi sebab mengapa pria biasanya menarik diri dan mengurung diri, kata Donald Malone, seorang psikiater dan kepala bagian psikiatri dan psikologi di Klinik Cleveland.

Dan hal ini menjadi merusak secara dahsyat pada relasi sang pria, sebagai orang yang dicintainya, terutama pasangan, dapat merasa tersakiti atau tersingkirkan. Penelitian menunjukkan bahwa masalah pernikahan dapat menyebabkan depresi baik pada pria maupun wanita. Akan tetapi satu studi yang klasik, yang dipublikasikan pada tahun 1997 di jurnal Psychological Science, menunjukkan bahwa pada wanita masalah pernikahan datang lebih dahulu, sementara pada pria justru depresi yang datang lebih dulu disusul oleh masalah pernikahan. “Pria merespon pada depresi dengan cara menjauhkan diri, yang dapat menyebabkan seorang pasangan merasa tidak tertolong dan sendirian,” kata Wendy Troxel, seorang psikolog dan ilmuwan sosial dan perilaku di Perusahaan Rand di Pittsburgh.

Bagaimana kita dapat menolong seorang pria yang berjuang melawan depresi?

Normalkan situasi.

Tekankan bahwa ini semua bukan kesalahannya dan ia tidak sendiri. “Rujuklah permasalahan pria dan depresi yang ada di internet – kamu akan takjub dengan yang kamu lihat,” kata Michael Addis, professor psikologi di Universitas Clark, di Worcester, Massachussets, dan direktur Kelompok Penelitian pada Kesejahteraan-Diri Para Pria.

Jika Anda menderita depresi ceritalah secara terbuka akan perjuangan Anda. Jelaskan bahwa depresi itu dapat disembuhkan dan merupakan hal penting untuk mendapatkan bantuan, sebagaimana halnya ketika kita mengalami penyakit lainnya.

Bicaralah secara hati-hati

Jangan mengkritik. Ia telah menyiksa dirinya secara emosional. Dan jangan mengekspresikan kekhawatiran atau kepedulian. Ini akan membuat dia mengira bahwa ia tak mampu menangani masalahnya sendiri.

“Pekalah pada cara depresinya sangat mempermalukan dia,” kata Joshua Coleman, seorang psikolog dan mitra senior di Dewan Keluarga Kontemporer, sebuah organisasi nir-laba yang bermarkas di Universitas Texas di Austin yang menyebarluaskan penelitian tentang keluarga-keluarga Amerika.

Para terapis mengatakan bahwa kata “kita” dapat lebih berkekuatan: “Kita ada bersama-sama menghadapi ini semua.” “Kita akan dapat menemukan pengobatan yang berhasil.”

Buanglah kata “D” itu

Penelitian menunjukkan bahwa pria dapat lebih defensif tentang kata depresi, dan bahwa mereka yang secara tradisional [merasa] jantan menolak sebagian besar hal itu. Pada penelitian tahun 2013 di jurnal Psychology of Men & Masculinity, pria yang mengaku tidak  mengalami depresi mengakui punya beberapa gejala, seperti kecemasan.

Apakah dia menyebutkan bahwa ia susah tidur? Tanpa tenaga? Semangatilah dia untuk mencari pertolongan untuk gejala yang ia gambarkan. Bertemu dengan dokter umum merupakan awal yang baik.

Tanyakan tentang bunuh diri.

Para pria seperti halnya para wanita punya kemungkinan empat kali lipat untuk mati akibat percobaan bunuh diri, bahkan walaupun para wanita lebih sering untuk mencoba hal itu. Mereka menggunakan cara-cara yang lebih mematikan.

Jangan malu untuk bertanya pada seorang pria apakah dia punya pikiran untuk menyakiti dirinya sendiri. Para ahli juga menyarankan untuk bertanya jika ia punya senjata api dan menawarkannya agar Anda menyimpannya hingga ia merasa lebih baik. “Itu seperti menyimpankan kunci mobil kawan saat dia ada dalam keadaan mabuk,” kata Dr. Troxel dari Perusahaan Rand.

Sarankan untuk mengikuti terapi dan fokuslah pada perubahan perilaku.

Banyak pria tidak mau bicara. Dan mereka percaya seorang terapi akan mengatakan pada mereka apa yang sudah mereka yakini: “Kau adalah seorang pecundang.”

Ada beberapa tipe psikoterapi yang dapat menunjukkan bahwa depresi yang diobati secara berhasil dan bahwa hal itu terjadi karena fokus pada perubahan perilaku. Hal ini mencakup Cognitive Bahavioral Therapy [CBT – penerjemah], yang membantu seseorang mengubah pikirannya, dan Behavioral Activation, yang membantunya menjadi lebih terlibat pada kehidupan sehari-hari. Ini akan lebih nyaman bagi banyak pria.

Semangati dia untuk melakukan apa yang sudah dilakukannya dengan baik.

Aktivitas seorang pria yang sudah bagus dapat menghasilkan rasa penguasaan dan kepuasan, kata Dr. Troxel. Jika itu merupakan aktivitas fisik, maka hal itu akan memproduksi endorfin. Jika hal itu adalah aktivitas sosial, maka akan memberinya sebuah peningkatan hormon yang menyenangkan-perasaan, oksitoksin.

Para pria biasanya memperoleh sebuah rasa pencapaian dari tugas-tugas yang diselesaikannya. Tetapi depresi bahkan dapat menjadikan tugas rumah tangga yang ringan menjadi beban yang besar. Dr. Troxel menyarankan memecah pekerjaan menjadi hal-hal kecil untuk membuatnya menjadi lebih mudah dicapai dan untuk menaruh sebuah rasa berhasil dicapai.

Ekspresikan keterbatasan Anda

Merupakan hal yang penting untuk disadari bahwa Anda tidak perlu menjadi samsak bagi kemarahan atau tudingan kesalahan dari seorang pria yang sedang depresi – atau menjadi satu-satunya yang muncul untuk menjalin relasi. Jika Anda telah mencapai batasan Anda, katakan dengan jelas, “Saya peduli kepada kamu. Saya ada di sini untuk kamu. Tapi saya butuh kamu untuk mendapatkan bantuan dari orang lain.”

Jika suami Anda depresi dan Anda merasa tidak tertolong, pertimbangkan untuk mendapatkan terapi untuk Anda sendiri. Terapi juga dapat membantu Anda memahami apa yang sedang terjadi, dan bagaimana Anda dapat membantu secara lebih baik.

Jangan menyerah.

Konsistenlah, bahkan jika dia menekan Anda. “Orang dengan depresi benar-benar membaik dengan pengobatan,” kata Dr. Borenstein.

Tulislah pesan ke Elizabeth Bernstein di elizabeth.bernstein@wsj.com atau ikuti dia di Facebook, Twitter and Instagram @EBernsteinWSJ.

Artikel asli dalam Bahasa Inggris dapat dilihat di http://www.wsj.com/articles/in-men-depression-is-different-1474305429 .

Print Friendly, PDF & Email

One thought on “Depresi Berbeda pada Pria. Gejala dan Bantuan Tidak seperti pada Wanita

Tinggalkan Balasan