Elyn Saks: Seorang dengan Skizofrenia yang Menjadi Profesor dalam Bidang Hukum

oleh Andrea Sachs. Senin, 27 Agustus 2007.

“Pikiranku telah menjadi sahabat terbaik sekaligus musuh terburukku,” kata Elyn Saks, penulis memoar skizofrenia The Center Cannot Hold. Sangat sukar untuk mendebat hal itu. Ketika Saks mencapai puncak pendidikannya – lulus dari Universitas Oxford, sarjana hukum dari Yale, dan professor tetap di University of Southern California – dia juga terhambat dan di luar kemauannya dirawat di rumah sakit jiwa. Saks, 52 tahun, mengalami skizofrenia, gangguan otak kronis yang mempengaruhi satu dari seratus orang Amerika. Orang dengan skizofrenia (yang dialami pria dan wanita dalam jumlah yang sama) kadang-kadang menderita halusinasi, waham, dan suara khayali. Buku menakjubkan karya Saks adalah sebuah suara dari tanah psikosis yang jarang terdengar. Seperti Girl, Interrupted karya Susanna Kaysen dan An Unquiet Mind karya Kay Jamison, The Center Cannot Hold adalah sebuah kisah indah dari seorang wanita muda yang digenggam oleh gangguan jiwa yang memuncak pada kemenangan. Filmnya akan muncul segera di bioskop kesayangan Anda, yang merupakan perhatian kuat dari Hollywood atas bukunya itu. Wartawan TIME, Andrea Sachs, bertemu dengan Saks (nama mereka tak ada kaitannya) ketika safari bukunya tiba di Manhattan.

TIME: Apakah penyakit Anda itu Anda alami sejak masa kanak-kanak?

SAKS: Semula, saya punya masa kecil yang sangat baik dan normal. Saya punya orang tua yang sangat peduli dan menyayangi saya. Tapi saya punya banyak keanehan atau masalah saat saya tumbuh. Saya punya fobia dan obsesi. Saya yakin bahwa ada seorang pria yang berdiri di luar jendela setiap malam, menunggu untuk memecahkan kaca, menerobos masuk, dan membunuh kami sekeluarga. Semua anak-anak punya ketakutan yang semacam itu, akan tetapi pada diri saya berlangsung bertahun-tahun.

Kapankah Anda mengalami episode pertama?

Pada usia tujuh atau delapan tahun. Saya bertanya pada ayah saya, “Dapatkah kita pergi ke pondok di tepi pantai?” Dia mendecak dan berkata,”Sudah kubilang tidak, cuacanya tidak bersahabat. Aku perlu kembali ke tempat kerja.” Dan pada saat itu, saya merasa kecewa dengan ayah saya. Rasanya seperti jatuh berantakan, diri saya hilang kepaduannya. Membayangkan sebuah istana pasir dengan pasir yang longsor oleh terpaan gelombang. Maka pada akhirnya tidak ada inti diri saya yang dapat mencerna segala perkara, memprosesnya, dan mengubah pandangan saya terhadap dunia. Itu adalah ketakutan pertama saya, perkara yang aneh. Bahkan lebih gawat gejala-gejalanya pada usia 16 atau 17, saya tiba-tiba, membaca karya Sylvia Plath dan menempatkan diri saya sebagai dia, terjaga di tengah hari [di sekolah] dan mulai berjalan pulang beberapa kilometer, sesuatu yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya. Saya adalah seorang remaja yang baik – saya tak pernah bolos sekolah. Dan ketika saya berjalan, rumah-rumah kelihatan sangat menyeramkan dan menakutkan, dan saya mulai berpikir bahwa mereka mengirimi saya pesan. “Lihat! Kau mesti lihat! Kau jahat! Kau iblis!” Saya tidak mendengarnya sebagai suara; mereka semua merupakan pikiran, tapi saya mengira bahwa mereka adalah pikiran yang ditaruh ke kepala saya oleh rumah-rumah itu. Semua itu sangat menakutkan.

Anda mendapatkan beasiswa Marshall di Universitas Oxford di Inggris. Anda menulis bahwa hidup Anda mulai berantakan di sana. Apa yang terjadi?

Saya menjadi sangat tertekan. Saya kehilangan seluruh selera saya dan kehilangan berat badan dalam jumlah banyak. Saya pikir bahwa saya tidak seharusnya berbicara, Karena bicara akan menyebarkan kejahatan di sekitar saya. Jelas sekali, sangat sulit untuk menjalin pertemanan jika Anda tak dapat bicara dengan orang lain, maka saya sangat terisolasi secara sosial, yang merupakan hal yang sangat menyakitkan. Dan saya punya kecurigaan yang ringan bahwa orang-orang membicarakan dan menertawakan di belakang saya, yang mungkin saja benar, karena saya terlihat aneh ketika berjalan di sepanjang jalan dengan mimik-gerak dan bicara sendiri.

Anda ditempatkan di rumah sakit jiwa secara paksa. Seperti apa rasanya saat itu?

Sangat menakutkan. Merendahkan dan melemahkan, pilihan yang direnggut, tidak dihargai sebagai makhluk yang mandiri. Ditempatkan di rumah sakit adalah versi ekstrem dari hal tersebut. Anda benar-benar terisolasi dari kawan-kawan dan keluarga, serta dari pekerjaan Anda. Kebebasan bergerak menjadi hilang; kebebasan untuk memilih menjadi lenyap… Itu menyebabkan kebencian dan amarah. Saya tidak mengatakan bahwa setiap orang tidak dapat dirawat di rumah sakit secara paksa, tapi sudah seharusnya kita benar-benar mempelajari cara untuk menolong dengan mencari pengobatan yang merupakan terbaik bagi mereka. Salah satu akibat dari hal itu adalah menjadi semacam keengganan bagi mereka dalam mencari bantuan di masa depan.

Bagaimana rasanya mengalami episode psikotik?

Seperti mimpi buruk dalam keadaan terjaga. Anda merasa ketakutan, bingung, yakin akan hal-hal yang aneh, menyeramkan, serta memusingkan. Saya berhalusinasi sedikit, tapi tidak banyak. Pada umumnya saya mengalami keyakinan delusional, seperti saya sudah membunuh banyak orang dengan pikiran saya, atau meledakkan nuklir di otak saya, atau otak saya bocor melalui telinga saya dan membuat hal itu jadi menenggelamkan orang lain. Hal-hal aneh macam itu, sangat sangat menyeramkan.

Perlindungan macam apa yang ditawarkan oleh obat-obatan medis?

Sangat bagus. Obat baru yang saya minum [Clozapine, sebuah antipsikotik] menjauhkan saya dari kekambuhan; kekambuhan itu menjadi lebih singkat dan lebih lemah ketika terjadi. Jadi itu seperti lantai yang lebih rendah yang [bisa] saya hindari. Saat saya menggunakan Navane [antipsikotik lainnya] ketika tinggal di New Haven, dan lima dari sepuluh tahun pertama di LA, saya limbung ke tepi sepanjang waktu. Angin yang lembut akan menekan saya jatuh ke tanah psikosis. Kini, pada umumnya saya sehat. Saya pada umumnya bisa berpikir dengan jelas. Saya memang mengalami kekambuhan, tapi tidak lagi berjuang di sepanjang waktu untuk tetap menapak dalam jalur yang tepat.

Apakah Anda masih mengalami gejala-gejala skizofrenia?

Bahkan hingga hari ini, dengan semua pengobatan dan segala macam medikasi. Saya masih mengalami psikotik sementara, bisa terjadi setiap hari. Pikiran-pikiran seperti saya sudah membunuh orang lain, datang ke pikiran saya dan saya hanya berkata, oh penyakit saya bertingkah lagi.

Apa pengaruh skizofrenia terhadap kehidupan sosial Anda?

Dua tahun pertama mengalami gangguan di Oxford, saya tak punya kawan sama sekali. Hal itu sangat menyakitkan. Saya tidak mampu untuk bekerja. Dalam sejumlah hal, analisa kejiwaan saya bersama Ny. Jones [seorang psikoanalisis] di Inggris mampu untuk menyela gejala negatif itu, dan saya kembali mampu untuk bekerja dan menjalin pertemanan. Bagi saya, kawan merupakan salah satu hal penting yang menjaga saya agar melakukan segala sesuatu dengan baik. Tapi dalam hal hubungan percintaan, saat saya jatuh sakit, tujuh tahun saya tidak berkencan. Saya begitu tersiksa oleh iblis dalam diri saya, sehingga tidak ada ruang bagi orang lain. Dan kemudian saya mulai naksir dengan seorang pria di perpustakaan yang bernama Will, yang tidak dia sambut. Dia meninggalkan kuliah hukumnya, dan [kemudian] kami bertemu kembali di aula, dan ia berkata, “Ayo kita makan siang kapan-kapan.” Lalu dia menelepon saya dan mengundang saya untuk makan siang. Pada hari berikutnya, dia membawa bulu burung dari kakatua peliharaannya, dan menaruhnya di atas komputer. Saya bertanya kepada kawan saya malamnya, “Kenny, apakah kamu pikir seorang lelaki yang mencabut bulu dari burung peliharaannya dan menaruhnya di atas komputer kamu berarti menyukai kamu?” Ia menjawab, “Saya tak tahu, Elyn, tapi ia lebih menyukaimu daripada burung peliharaannya!” Saya akhirnya jatuh cinta kepada Will [yang kini merupakan suaminya]. Saya bilang bahwa ia adalah orang pertama yang membuatnya jatuh cinta dengan cara begitu, dan ia menjawab bahwa itu membuatnya sangat sedih. Tapi ia telah benar-benar menjadi bagian penting dari hidup saya.

Apa kesalahpahaman paling besar dari banyak orang tentang skizofrenia?

Ada banyak kesalahpahaman tentang skizofrenia, [misalnya] pasien jiwa benar-benar liar. Faktanya, semua yang mengalami gangguan jiwa, [merupakan kelompok orang yang] paling sedikit melakukan kekerasan. Orang yang mengalaminya tak dapat dipercaya untuk melakukan pekerjaan, apalagi pekerjaan yang memerlukan keterampilan tinggi… Tak bisa punya teman dan keluarga dekat. Tidak dapat hidup mandiri. Semua itu sebenarnya hanya terjadi pada sebagian orang dengan skizofrenia. Akan tetapi kelihatan bagi saya bahwa pada banyak kasus mereka punya kehidupan yang mengarah ke [kehidupan] yang lebih memuaskan. Saat Anda berkata kepada seseorang, “Anda takkan bisa bekerja,” atau “turunkan harapan Anda,” maka mereka akan menyerap hal yang dikatakan itu. Dan pekerjaan memberikan sebagian besar orang rasa kesejahteraan sebagai manusia, produktivitas. Anda telah merampas dari seseorang [dengan skizofrenia] hal-hal yang merupakan perangkat penting dalam pemulihan mereka dengan menyatakan harapan negatif semacam itu.

Nasehat apa yang akan Anda sampaikan kepada orang yang mengalami gangguan jiwa?

Carilah pengobatan yang baik dan dokter yang benar-benar dapat Anda percaya. Pilihlah kawan Anda secara bijak, dan juga pilihlah kawan yang bisa Anda percaya. Cobalah untuk belajar tentang penyakit Anda – seperti apa ketika pertama kali, maka mulailah melangkah sebelum penyakit mengambil alih Anda.

Apa yang terjadi setelah Anda ‘menyatakan diri’ sebagai orang dengan skizofrenia?

Sebagian besar orang mendukung dengan kuat, baik dan menyemangati, beberapa dari mereka berterima kasih. Saya mendapatkan banyak email dari kawan-kawan yang sama-sama mengalami. Orang-orang menamai kami konsumen kesehatan jiwa sekarang – itu adalah cara yang tepat untuk menyebut kami semua.

Tulisan asli dalam Bahasa Inggris dapat dilihat di:
http://content.time.com/time/arts/article/0,8599,1656592,00.html

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan