Pameran Lukisan & Diskusi “Merintis Jejaring Art Brut Indonesia”

Map Unavailable

Date/Time
Date(s) - 17/05/2017
12:00 pm - 4:00 pm

Location
Plaza Insan Berprestasi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Gedung A Lantai 1

Categories


Pada 30 November 2011 Indonesia telah meratifikasi Konvensi PBB tentang Hak Penyandang Disabilitas (United Nation Convention on the Rights of Person with Disability – UN CRPD). Hasil dari ratifikasi itu adalah Undang-Undang No. 19/2011, menggantikan UU No. 04/1997 tentang Penyandang Cacat. UU No. 19/2011 menjamin persamaan hak antara penyandang disabilitas dan yang tidak. Undang-undang ini juga menegaskan definisi disabilitas bukan sesuatu tentang kecacatan melainkan ketidakseimbangan interaksi antara kondisi biologis dan lingkungan sosial. Ketidakseimbangan itu lantas identik dengan keterbatasan.

Tentu benar bila para penyandang disabilitas memiliki keterbatasan dalam interaksi sosialnya. Namun, keterbatasan itu menjadi tidak tepat di ranah ekspresi seni para penyandang disabiltas. Seni yang niscaya selalu terbatas dengan konvensi alias kesepakatan-kesepakatan artistik sama sekali tak berlaku pada karya-karya para penyandang disabilitas. Mereka tak peduli dengan batas-batas dalam soal komposisi, tak memusingkan proporsi, dan tak memiliki beban untuk menyampaikan makna-makna canggih di balik sebuah karya. Mereka juga tak pening dengan bayangan apakah karyanya akan dapat disambut apresiatornya atau tidak. Karya seni dari para penyandang disabilitas sejatinya telah meniadi sebuah genre tersendiri yang disebut dengan art brut atau outsider art.

Art brut adalah karya dari tangan orang dengan masalah keiiwaan (ODMK). Dr Hans Prinzhor pada 1922 mengidentifikasi art brut adalah seni mentah, tidak sempurna, dan muncul secara polos tanpa usaha merujuk pada
konsep-konsep estetika dalam kesenian. Studi psikiatrik Prinzhor itu tertuang dalam bukunya, Bildnerei der Geisteskranken (The Artistry of the Insane). Buku ini kemudian mempengaruhi sejumlah nama tenar di ranah seni rupa seperti Franz Marc, Paul Klee, Max Ernst dan Jean Dubuffet.

Pada masa yang hampir sama, Dr Walter Morgenthaler melakukan studi mendalam kepada pasien penghuni sel isolasi sebuah rumah sakit iiwa di Swiss bernama Adolf Wolfli. Di balik kesakitan jiwa dan hidupnya yang tragis,
Wolfli secara konsisten dan terus menerus menggambar. Bersama Andre Breton, Morgenthaler kemudian mendirikan Compagnie de l’Art Brut pada 1948. Sejak itu, mereka secara tekun mengumpulkan karya dari tangan-tangan pemilik gangguan kejiwaan. Sejak 1979, ribuan koleksi karya art brut yang terkumpul tersimpan di museum yang terletak di Lausanne, Swiss.

Di Inggris, pada 1972 Roger Cardinal menyebut karya ODMK sebagai Outsider Art untuk mendefinisikan karya ODMK. Di Amerika Serikat, outsider art alias art brut mulai dikenal pada 1973 saat karya-karya Henry Darger ditemukan di bilik sempit tempat tinggalnya. Di Indonesia, art brut sebagai sebuah genre dalam seni rupa bisa iadi masih kalah tenar dengan band rock indie asal Jerman bernama soma, Art Brut. Padahal, tidak sedikit karya art brut di Indonesia. Merintis Jejaring Art Brut Indonesia menjadi tema pameran lukisan dan diskusi kali ini, sekaligus itulah salah satu tuiuan konkretnya.

Selamat menikmati!

Untuk hadir di acara ini, mohon konfirmasi dulu kedatangan Anda (RSVP) ke Indah Ariani di +62-819-1121-4459.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.