Jalan Keluar dari Depresi: Membujuk Tanpa Meruntuhkan Relasi Anda

Print Friendly, PDF & Email

oleh Elizabeth Bernstein di Situs Wall Street Journal.

Untuk orang yang sedang mengalami depresi, nasehat yang diberikan biasanya sama: Carilah pertolongan.

Arahan yang sehat dan sederhana, akan tetapi, merupakan hal yang sulit untuk diikuti oleh mereka yang sedang depresi. Karena satu gejala yang paling umum dari penyakit ini adalah menyangkal bahwa mereka mengalami depresi atau mereka memang punya kesadaran diri yang kurang jika mereka mengalami masalah. Ini dapat membuat frustasi kawan dan keluarga yang punya tujuan dan relasi baik dengan mereka – dan kunci untuk mengobati masalah kesehatan jiwa memang berbeda dengan pengobatan terhadap penyakit lain.

Penelitian menunjukkan bahwa hampir 15 juta orang dewasa di Amerika Serikat setiap tahunnya mengalami depresi berat. Dan 6 juta orang Amerika mengalami penyakit kejiwaan lain, seperti skizofrenia, gangguan bipolar, atau gangguan penilaian realitas lainnya. Sementara 50 % orang dengan gangguan bipolar dan skizofrenia tidak percaya bahwa mereka mengalami masalah dan menolak untuk mencari pertolongan. Orang dengan depresi klinis menolak pengobatan dalam kisaran angka yang mirip, kata para ahli.

“Orang yang mengalami masalah kejiwaan akan menolak atau tidak mampu menerima atau mencari pertolongan mungkin karena mereka malu.
Mereka mungkin merasa rentan. Atau mungkin mereka tak mampu menilai semua itu secara baik, yang membuat mereka berpandangan
bahwa mereka tidak mengalami depresi.”

Anda mungkin pernah melihat iklan populer di televisi tentang antidepresan Cymbalta yang berulang-ulang menekankan bahwa “depresi itu menyakitkan” – bukan hanya bagi orang yang mengalaminya akan tetapi juga bagi orang yang mencintai mereka. (Bahkan binatang juga bisa terlihat sedih). Itu hanya sebuah iklan, tentu, akan tetapi pandangan akan perasaan semacam itu memang benar: Orang yang tinggal bersama anggota keluarga yang depresi seringkali juga merasa depresi. Dan depresi dapat memiliki dampak yang gawat bagi sebuah relasi. Adalah penyakit kejiwaan yang berada di depan alam perasaan murung atau suasana yang menyedihkan, yang menjadikan seseorang sukar untuk menikmati hidup. Depresi menguras minat orang untuk menjalin relasi sosial. Dan penyakit ini juga menyingkirkan karakter asli sang pengalamnya, mencerabut banyak hal yang merupakan ciri khas yang sangat kental yang membuat orang yang mencintai mereka menjadi menjauh.

“Depresi membuat seseorang melihat dunia dengan kacamata abu-abu,” kata Xavier Amador, psikolog klinis dan penulis buku I Am Not Sick. I Don’t Need Help! (Saya tidak Sakit, Saya Tidak Butuh Pertolongan) yang diterbitkan sebagai edisi yang ke-10 pada tahun ini. Intervensi dengan cara menunjukkan realitas dan cinta yang tangguh merupakan metode yang jarang berhasil, kata para ahli. Akan tetapi ada teknik-teknik yang dapat membantu. Kuncinya adalah dengan mencoba dan mencegah sebuah perdebatan apakah orang yang Anda cintai itu mengalami masalah kejiwaan, dan sebagai penggantinya adalah melihat hal-hal yang lebih umum.

Patricia Gallagher tahu betapa sukarnya hal ini. Suaminya, John, tiba di rumah dari pekerjaannya sebagai penganalisa keuangan senior untuk sebuah perusahaan farmasi pada suatu hari dan ia mengatakan kalau pimpinannya telah memberinya waktu tiga hingga enam bulan untuk menemukan pekerjaan baru. Suaminya menangis.

Pada tahun berikutnya, Ny. Gallagher, yang berusia 59 tahun dan tinggal di Chalfont, Pennsylvania, menyadari bahwa suaminya menjadi mudah tersinggung, murung, dan mudah tersulut, menarik diri dari istri dan anak-anaknya. Tn. Gallagher kehilangan 27,5 kg, tidak tidur-tidur dan akan memanggil Ny. Gallagher berkali-kali setiap hari dan mengatakan bahwa ia “tidak sanggup lagi.” Ia mengunjungi dokter lusinan kali tahun itu, diperiksa segalanya mulai dari tukak lambung hingga tumor otak. Banyak dokter menyarankan agar ia menemui psikiater, tapi ia tidak melakukannya.

Ny. Gallagher mencoba melakukan segalanya yang dia pikir akan membantu. Dia meminta suaminya untuk bersantai atau pergi berlibur. Dia sangat memohon agar suaminya itu menemui psikolog, yang pada akhirnya Ny. Gallagher sendirilah yang membuat janji dengan profesional kesehatan jiwa itu, dan bahkan ia pergi sendirian ketika suaminya menolak untuk pergi, untuk meminta nasehat. Akhirnya, suaminya itu dirawat di rumah sakit setelah mengalami kekakuan otot disertai kecemasan, kemudian ia berusaha bunuh diri dengan melompat ke luar jendela rumah sakit.

Sepuluh tahun kemudian, suami-istri Gallagher bercerai. “Saya terus berpikir, ‘kamu menghancurkan segalanya karena kamu tidak pergi untuk mendapatkan terapi,’” kata Ny. Gallagher, 59 tahun, seorang sales untuk sebuah perusahaan pakaian, ia kemudian berkata: “Saya tidak memahami [bahwa depresi] adalah suatu penyakit biokimiawi. Saya pikir itu suatu penyakit fisik.”

Orang yang mengalami masalah kejiwaan akan menolak atau tidak mampu menerima atau mencari pertolongan mungkin karena mereka malu. Mereka mungkin merasa rentan. Atau mungkin mereka tak mampu menilai semua itu secara baik, yang membuat mereka berpandangan bahwa mereka tidak mengalami depresi.

“Ketika orang yang mencintai mereka mengatakan bahwa mereka depresi dan harus menemui seseorang, mereka merasa dikritik atas kegagalan total mereka,” kata Dr. Amador, direktur LEAP Institute di Taconic, New York, yang melatih profesional kesehatan jiwa dan anggota keluarga tentang bagaimana mengambil jalan memutar untuk penyangkalan atas penyakit mereka.

 

MEMUTAR JALAN UNTUK MENGUBAH PENYANGKALAN

Para ahli berkata bahwa ada berbagai macam cara untuk memutar jalan atas penyangkalan mereka untuk mencari pertolongan:

  • BERSIKAP LEMBUT. Orang yang Anda cintai itu nampaknya sangat rentan. “Ini sama halnya berbicara dengan seseorang tentang berat badan mereka,” kata Ken Duckworth, seorang psikiater dan direktur medis Aliansi Nasional untuk Penyakit Kejiwaan (National Alliance on Mental Illness – NAMI), seorang dari kelompok kerja edukasi, dukungan, dan advokasi. Kata-kata sederhana seperti “Aku sayang kamu” akan membantu.
  • SALING BERBAGI KERENTANAN. Jika Anda menerima pertolongan untuk hal apapun – untuk masalah di tempat kerja, suatu penyakit, atau untuk permasalahan emosional – katakan pada orang yang Anda cintai tentang hal itu. Ini akan mengurangi rasa malu mereka, yang turut berperan terhadap tindak penyangkalan mereka.
  • BERHENTILAH MENCARI-CARI ALASAN. Jangan berdebat tentang siapa yang benar dan siapa yang salah. Lebih baik ajukan pertanyaan. Pelajari apa yang mereka yakini karena depresi mereka.
  • FOKUSLAH PADA MASALAH-MASALAH YANG MEREKA LIHAT. Sarankan bantuan apa yang perlu untuk mereka. Sebagai contoh, jika mereka mengalami kurang tidur atau punya masalah konsentrasi, tanyakanlah apakah mereka pernah mencari bantuan untuk permasalahan tersebut. “Jangan memukul mereka dengan membahas masalah yang lain,” kata Dr. Duckworth. “Tak ada yang ingin dinilai kalau mereka mengalami penyakit.”
  • SARANKAN MEREKA UNTUK MENEMUI DOKTER UMUM. Adalah hal yang seringkali jauh lebih mudah untuk membujuk mereka untuk melakukan hal ini daripada menemui psikiater atau psikolog. Dan dokter umum ini dapat mendiagnosa depresi, menuliskan resep, atau merujuknya ke profesional kesehatan jiwa.
  • BEKERJA SEBAGAI TIM. Tanyakanlah apakah Anda boleh ikut hadir saat bertemu dengan dokter atau profesional kesehatan jiwa, sehingga Anda bisa berbagi pengamatan dan nasehat Anda tentang bagaimana caranya menolong dengan melakukan yang terbaik.
  • TANYAKAN PADA DIRI ANDA SENDIRI APAKAH ANDA JUGA BUTUH BANTUAN. Temui seorang terapis untuk mendiskusikan tentang cara Anda mendapatkan bantuan untuk memecahkan masalah yang Anda hadapi. Atau hubungilah organisasi konsumen kesehatan jiwa untuk menemukan informasi tentang cara menjadi pendamping atau tentang kelompok dukungan.
  • DAFTARKAN KONTAK PENTING LAINNYA. Siapa lagi yang dekat dengan mereka dan melihat bahwa ada perubahan dalam diri mereka? Mungkin saudara kandung, orang tua, anak yang telah dewasa, atau pemimpin keagamaan dapat membantu menemukan jalan terobosan.
  • TINGKATKAN KASIH SAYANG ANDA. Suruhlah mereka untuk mendapatkan bantuan demi Anda. “Jika orang yang Anda cintai tidak akan mendapatkan bantuan karena tidak memenangkan perdebatan,” kata Xavier Amador, psikolog klinis dan direktur dari LEAP Institute. “Maka Anda akan menang karena kelebihan relasi Anda dengannya.”

Sebagai tambahan terhadap alasan psikologis yang mengarahkan seseorang untuk menyangkal penyakit mentalnya, mungkin adalah alasan yang bersifat biologis. Anosognosia, sebuah hendaya [ketidakmampuan – penerjemah] pada cuping depan otak, yang merupakan fungsi eksekusi untuk kesadaran diri, menjadikan seseorang tidak mampu untuk memahami bahwa ia sedang mangalami penyakit.

Dr. Amador, yang memelopori penelitian terhadap penyakit ini 20 tahun yang lalu, mengatakan bahwa hal ini juga dialami oleh sekitar 50 % orang dengan skizofrenia dan gangguan bipolar. Para pakar percaya bahwa kerusakan yang mirip kadang-kadang terjadi pada orang dengan depresi klinis, walaupun mereka baru pada tahap awal penelitian ini.

Di LEAP Institute, ia mengajar profesional kesehatan jiwa dan para anggota keluarga bagaimana caranya membangun rasa percaya (trust) yang cukup dengan orang yang mengalami masalah kejiwaan yang bahkan tidak mengakui jika mereka mengalami masalah seperti itu. LEAP adalah kependekan dari listen reflectively, empathize strategically, agree on common ground and partner on shared goals (mendengarkan reflektif, berempati dengan strategi, setuju pada hal-hal yang umum, dan bermitra untuk tujuan saling berbagi).

“Merupakan hal yang berbeda antara tinju dan yudo,” kata Dr. Amador. “Dalam tinju Anda memukul dan lawan menepis Anda. Dalam yudo, seseorang memukul dan Anda menerima pukulannya dan menggunakan pertahanan mereka untuk menggerakan mereka ke arah yang lawan mereka mau.”

Kadang-kadang orang dekat mereka mampu untuk menolong. Renee Rosolino, 44 tahun, seorang juru taksir properti rumah tangga di Fraser, Michigan, mengatakan bahwa ia menyesal telah menunggu begitu lama untuk mendengarkan keluarganya. Mereka menyatakan kepedulian mereka tentang perilakunya 14 tahun yang lalu, ketika ia mulai menunjukkan pertanda gangguan bipolar. Pada waktu itu, dia merasa dihakimi oleh suaminya, orang tua dan saudara perempuannya dengan berkata bahwa kepribadiannya telah berubah total dalam waktu enam bulan. Dia berhenti makan dan tidur, banyak menangis, dan meneriaki kepada anggota keluarga yang lain, serta mulai menarik diri dari segala hal mulai dari aktivitas sosial hingga ibadah di gereja.

Berulang-ulang suaminya mencoba berbicara soal perilakunya, akan tetapi ia bertahan dengan mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Suaminya itu bahkan memasukkan saudara perempuan Ny. Rosolino ke dalam daftar kontaknya. Setelah makan malam suatu hari, mereka mengatakan bahwa mereka khawatir kalau-kalau ia mengalami depresi karena ia terlihat murung, tertekan, dan emosinya selalu labil. Ny. Rosolino marah karena perkataan itu dan “menutup percakapan,” cerita Ny. Rosolino.

Hal lain yang dialaminya selain marah adalah ia merasa ketakutan. Saat ia masih kecil, ayah Ny. Rosolino, seorang asisten wakil presiden di sebuah bank, mengalami gangguan jiwa dan dibawa ke rumah sakit jiwa pada tengah malam. “Saya tak pernah mengerti apa yang terjadi pada ayah saya,” kata Ny. Rosolino. “Dan muncul di kepala saya kalau saya bercerita kepada seseorang maka hal tersebut akan terjadi pada diri saya dan anak-anak saya. Saya tidak mau anak-anak saya punya perasaan semacam itu.”

Suami Ny. Rosolino akhirnya menemukan jalan terobosan setelah memintanya agar ia berbicara dengan pastor keluarga mereka, memohon demi dia dan anak-anak mereka. “Ia berkata, baiklah, aku takkan meninggalkanmu. Aku butuh kamu. Anak-anak kita membutuhkan kamu,” katanya.

Ketika perbincangannya dengan sang pastor, ia luluh dan mengatakan kepada sang pastor tentang tekanan yang dia alami karena menjadi seorang ibu – salah satu anaknya mengalami autisme – dan rasa tersinggungnya ketika dihakimi oleh keluarganya. Tn. Rosolino berkata bahwa anggota keluarga yang lainnya khawatir dan mengajaknya untuk bertemu dengan seorang psikiater, sekali saja, untuk membuat pikiran mereka menjadi lebih lega.

Ny. Rosolino setuju dan bertemu dengan psikiater sekali seminggu dan meminum antidepresan. Meskipun ia dirawat inap beberapa kali, biasanya, kata Ny. Rosolino, karena ia berhenti meminum obatnya. Akan tetapi ia telah stabil selama beberapa tahun dan ia punya sejumlah orang yang layak menerima ucapan terima kasih untuk semua itu.

“Cinta dan penghargaan yang tidak biasa dari pastor dan keluarga saya, saya akan menelepon mereka,” kata Ny. Rosolino, “karena mereka membuat saya merasa aman.”

—Tulislah pesan ke Elizabeth Bernstein ke bonds@wsj.com dan ikuti kolomnya di www.Facebook.com/EBernsteinWSJ .

 

Artikel asli dalam Bahasa Inggris dapat dilihat di https://www.wsj.com/articles/SB10001424052748703946504575470040863778372 .

1 thought on “Jalan Keluar dari Depresi: Membujuk Tanpa Meruntuhkan Relasi Anda

Leave a Reply



Your email address will not be published. Required fields are marked *