Kecemasan dan Depresi: Apa Kaitan antara Keduanya?

Oleh Calmclinic.com

Jangan lupa bahwa neurotransmiter-lah yang menciptakan perasaan itu,
bukan apapun tentang dunia ini yang menciptakan perasaan itu,
maka merupakan hal yang penting agar Anda tidak membiarkan
semuanya dirampas oleh neurotransmiter.

Ketika para psikiater atau psikolog melihat kesehatan jiwa dalam kaitannya dengan gangguan yang spesifik, kenyataannya adalah kesehatan jiwa tidaklah selalu hitam-putih. Seringkali ada kaitan antara dua jenis gangguan yang membuatnya menjadi rumit untuk didiagnosa, dan sejumlah orang mungkin mengalami lebih dari satu gangguan pada suatu waktu (terkenal dengan sebutan “penyakit penyerta” atau “komplikasi”).

Dua gangguan paling umum di dunia adalah kecemasan dan depresi. Keduanya juga memiliki gangguan yang merupakan sub-jenis dari keduanya. Secara teknis keduanya merupakan gangguan yang berbeda tapi punya banyak kesamaan. Kemiripan serta kaitan antara keduanya dapat memberikan dampak pada pengobatan Anda.

APAKAH ANDA PUNYA KECEMASAN, DEPRESI, ATAU KEDUANYA?

Sebenarnya merupakan hal yang sangat umum untuk mengalami baik kecemasan maupun depresi pada waktu yang sama, terutama jika memiliki kecemasan yang berat atau gangguan panik. Seringkali kecemasan datang lebih dahulu, dan dampak dari kecemasan berujung pada berkembangnya depresi beserta gejala-gejalanya.

LETAK PERBEDAAN ANTARA KEDUANYA

Kecemasan dan depresi merupakan gangguan yang berbeda. Kecemasan punya ciri khas rasa takut dan kekhawatiran bahwa sesuatu yang buruk akan datang (apprehension). Sering ada kekhawatiran dan kekikukan dalam pikiran, dan memfokuskan secara berlebihan terhadap apa yang ada di masa kini dan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Kecemasan menciptakan perasaan tidak nyaman dan seringkali punya banyak energi. Mereka yang mengalami kecemasan cenderung untuk berpikir sangat negatif, dan mereka demikian karena khawatir atas apa yang akan terjadi. Seringkali landasan dari sebuah kecemasan adalah rasa takut atas sesuatu yang akan membuat kehidupan mereka menjadi lebih buruk.

Depresi, pada pihak lain, tak punya ketakutan semacam itu. Depresi berpusat pada ide bahwa hidup ini sudah buruk, dengan harapan yang kurang untuk menjadi lebih baik. Orang yang mengalaminya kurang khawatir tentang masa depan karena persepsinya melibatkan harapan yang kurang dari semestinya. Mereka yang mengalami depresi mungkin mengalami pikiran untuk bunuh diri, sangat letih (yaitu punya energi yang sangat kurang), dan emosi dalam kadar yang kecil – walaupun seperti halnya kecemasan, emosi ini seringkali sangat negatif.

Kecemasan dengan cara yang terbaik dapat digambarkan sebagai keyakinan bahwa sesuatu hal dapat menjadi salah dan membuat hidup menjadi lebih buruk, dan depresi dapat digambarkan dengan cara yang terbaik sebagai keyakinan bahwa tak ada apapun yang benar dan tak ada apapun yang akan membuat hidup jadi lebih baik. Secara fisik, kecemasan cenderung menyebabkan aktifnya sensasi dan perasaan (jantung yang berdebar-debar, berkeringat, perasaan panik) sementara depresi kelihatannya malah menyebabkan tiadanya sensasi dan perasaan (tanpa perasaan yang optimis, tak layak untuk bangkit dari tempat tidur, kekurangan tenaga).

BAGAIMANA KEDUANYA BERKAITAN

Ada banyak kemiripan antara dua kondisi tersebut, dan ingatlah bahwa pada sejumlah kasus yang satu bisa menyebabkan yang lainnya. Sebagai contoh, setelah serangan panik yang berat beberapa orang menyadari bahwa mereka sangat kehabisan energi dan sangat kecewa karena mereka mengembangkan perasaan depresi sementara (dan kadang-kadang bahkan bertahan lama) sebagai dampak dari emosi dan kebahagiaan mereka yang tandas terkuras dari diri mereka.

Keduanya melibatkan kadar pikiran negatif yang besar. Sementara mereka yang mengalami kecemasan cenderung untuk takut akan masa depan serta mereka yang mengalami depresi melihat masa depan sebagai saat tiadanya harapan, keduanya percaya bahwa hal yang buruk sama-sama akan terjadi. Baik kecemasan maupun depresi berkaitan dengan neurotransmiter [zat yang menyampaikan pesan dari satu sel saraf ke sel saraf yang lainnya] yang sama, yang merupakan sebab keduanya punya kemiripan pemikiran (karena neurotransmiter mempengaruhi pikiran dan persepsi).

Keduanya bahkan punya gejala fisik yang sama, termasuk:

  • Mual dan masalah dengan lambung.
  • Rasa sakit dan nyeri tanpa sebab yang jelas.
  • Sakit kepala.

Tapi gejala-gejala yang lainnya seringkali cukup berbeda di mata para profesional kesehatan jiwa sehingga mereka dapat membedakan apakah seseorang mengalami salah satu, yang lainnya, atau keduanya. Alasan seringkali ada komplikasi antara dua kondisi tersebut adalah tidak setiap orang mengalami kedua kondisi tersebut setiap hari, dan tidak semua depresi serta kecemasan menunjukkan dirinya dalam cara yang sama. Contohnya:

  • Mereka yang mengalami depresi dapat merasa takut akan masa depan menjadi lebih buruk, atau takut atas sesuatu yang buruk akan terjadi; selain merasa kurangnya harapan.
  • Mereka yang mengalami kecemasan dapat mengalami gejala-gejala depresi seringkali sebagai dampak dari kecemasan mereka – cukup bagi mereka untuk mendapatkan diagnosa depresi – untuk kecemasan yang lebih berat (terutama serangan panik yang nyata).
  • Mereka yang mengalami depresi dan kecemasan seringkali mengalami kondisi di atas dan di bawah (ups and downs). Tidak semua orang mengalami salah satu atau lainnya setiap hari, tidak pada setiap kejadian di hari itu.
  • Sejumlah orang mengalami gejala-gejala baik depresi maupun kecemasan, akan tetapi tidak seluruhnya. Contohnya, merasa hidup ini tidak layak untuk dijalani (depresi) karena tak ada hal baik yang terjadi. Mereka punya harapan atau berharap hal baik akan terjadi, yang merupakan indikasi yang kurang untuk diagnosa depresi dan lebih cocok untuk gangguan kecemasan. Tapi ketika hal baik tersebut tidak terjadi, mereka selanjutnya tetap memiliki niat untuk bunuh diri.

Inilah mengapa kecemasan dan depresi sangat rumit, dan itulah mengapa merupakan hal yang penting untuk mengenali berapa sering kondisi keduanya berbeda dan berapa sering keduanya mirip. Para psikolog secara umum akan memantau keduanya dan coba untuk membedakan masalah utamanya, sebagaimana mencarikan jalan keluar untuk mengobati keduanya.

KECEMASAN DAN DEPRESI: PENGOBATAN

Salah satu hal yang paling memukau tentang kecemasan dan depresi adalah keduanya sangat mungkin untuk tersembuhkan secara total. Faktanya, ada penelitian yang tidak terhitung yang membuktikan bahwa mereka yang menjalani pengobatan akan menemukan kondisi mereka menjadi lebih baik atau gangguannya menghilang sama sekali.

Masalahnya adalah:

  • Baik kecemasan dan depresi mengubah cara Anda berpikir, maka Anda akan merasa seolah-olah gangguan tersebut tidak dapat tersembuhkan. Itulah kondisi dari gangguan ini – mempengaruhi pikiran dan harapan sehingga merasa seolah-olah gangguannya takkan pergi, alih-alih optimis dengan segunung bukti bahwa sebenarnya keduanya dapat tersembuhkan.
  • Pengobatan gangguan ini berbeda dari satu individu ke individu yang lain. Artinya bahwa Anda dapat gagal menjalani beberapa pengobatan sebelum menemukan kesembuhan. Anda harus bersikap untuk bergerak (go in) [maksudnya tidak bersikap statis – penerjemah] , tidak merasa kecewa, atau berhenti mencari pengobatan jika salah satunya tidak bekerja untuk Anda.
  • Kecemasan dan depresi membutuhkan pengobatan dalam jangka panjang. Keduanya takkan punya hasil yang segera, karena mereka melibatkan pengubahan segala hal tentang sudut pandang Anda terhadap dunia, yang tidak akan mudah selesai untuk dilakukan secara lekas-lekas.
  • Keduanya akan memiliki kemundurannya (setback) [maksudnya kembali ke titik awal lagi – penerjemah] sendiri. Mereka yang mengalami kecemasan akan mengalami beberapa episode kecemasan dan panik bahkan setelah kecemasannya tersembuhkan. Demikian juga dengan depresi. Karena kedua kondisi tersebut menyebabkan pemikiran negatif, kemunduran ini dapat mengarah pada perasaan putus asa yang menyebabkan seseorang untuk berhenti dari pengobatan, bahkan jika kemunduran adalah bagian alamiah dari pemulihan [kejiwaan].
  • Banyak yang beralih ke pengobatan yang tersedia di pasaran ketika pengobatan medis tidak bekerja, dan itu artinya ketika pengobatan itu juga tidak berhasil maka orang tersebut akan terus percaya bahwa tidak ada harapan untuk pengobatan untuk gangguan ini. Itulah masalahnya, padahal ada banyak pengobatan yang benar-benar dapat berhasil.

Kecemasan dan depresi adalah dua gangguan yang sangat-sangat dapat tersembuhkan – akan sangat terbuka kemungkinan untuk sembuh – jika Anda menjalani pengobatan secara efektif dengan sungguh-sungguh Anda akan dapat pulih. Tapi semua itu membutuhkan waktu, dan selama waktu itu Anda akan harus memastikan melakukan semua yang dibutuhkan dalam sebuah pengobatan efektif dan mencari jalan untuk meningkatkan kondisi Anda.

Setiap orang yang punya niat atau pikiran untuk bunuh diri, atau kehilangan harapan dalam hidup ini sudah seharusnya berkonsultasi dengan dokter atau profesional kesehatan jiwa segera. Jangan lupa bahwa neurotransmiter-lah yang menciptakan perasaan itu, bukan apapun tentang dunia ini yang menciptakan perasaan itu, maka merupakan hal yang penting agar Anda tidak membiarkan semuanya dirampas oleh neurotransmiter. Jika Anda punya kecemasan, ada beberapa cara untuk mengobatinya di rumah atau bersama profesional kesehatan.

Cobalah redakan kecemasan Anda dengan uji kecemasan gratis ini, cobalah sekarang dan pelajari lebih lanjut bagaimana caranya mengendalikan gejala-gejala kecemasan Anda. Mulailah tesnya di sini.

 

Artikel asli dalam Bahasa Inggris dapat dilihat di http://www.calmclinic.com/anxiety/anxiety-vs-depression .

 

RUJUKAN

Maier, W., and P. Falkai. The epidemiology of comorbidity between depression, anxiety disorders and somatic diseases. International clinical psychopharmacology 14 (1999): S1.

Pini, Stefano, et al. Prevalence of anxiety disorders comorbidity in bipolar depression, unipolar depression and dysthymia. Journal of affective disorders 42.2 (1997): 145-153.

Print Friendly, PDF & Email

One thought on “Kecemasan dan Depresi: Apa Kaitan antara Keduanya?

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.