Mengenal Ilmu Jiwa: Edukasi Sederhana untuk Konsumen Kesehatan Jiwa

 

Oleh Dewi Rahmawati Nur Aulia S.Psi.

psy.jpgPara akademisi/ilmuwan dari berbagai belahan dunia menyepakati bahwa beberapa dekade kehidupan mendatang Psikologi sebagai ilmu yang mempelajari perilaku manusia akan menjadi sebuah pusat kajian penting yang akan berkembang di masa depan. Psikologi saat ini tidak lagi dianggap sebagai “ilmu semu” (baca: Pseudo sains) karena telah didukung oleh penelitian/kajian ilmiah.

Setiap dari kita (berasal dari latarbelakang pendidikan apapun) bebas memberikan cara pandangnya terhadap basis keilmuannya. Termasuk penulis. Penulis yang memiliki latar belakang pendidikan berasal dari psikologi memiliki cara pandang yang sebenarnya pun telah diamini dari berbagai kalangan yang telah lebih jauh berbicara mengenai perkembangan ilmu jiwa ini.

Mengapa ilmu ini menjadi pusat kajian yang menarik dan berkembang di masa kehidupan mendatang? Analisis sendiri yah !

Dari analisis teman-teman sebagai ‘konsumen jiwa’ pada akhirnya kita menemukan ‘benang merah’ dimana berbagai ke’kacauan’ jiwa manusia (baik yang saat ini terjadi maupun yang akan datang) akan meningkat serta mengalami kompleksitas yang beragam seiring dengan perkembangan dunia sehingga ilmu psikologi dianggap sangat relevan dalam menjelaskan serta menggambarkan perilaku manusia. Gangguan-gangguan yang terjadi pada individu bisa jadi hanya sedikit dari parahnya “luka” yang dialami akan betapa beratnya menghadapi guncangan dunia sebagai stressor utama (kematian, kehilangan, pengangguran, diskriminasi sosial, kemiskinan, perilaku maladaptif, bencana alam dan lain-lain).

11754897_1057558847589455_197953988811113632_o.jpg
Psikologi, sederhananya, adalah ilmu yang mempelajari jiwa. Secara harfiah kata ini berasal dari bahasa Yunani (psyche, “jiwa” dan logos “ilmu, pengetahuan”). Pada kamus JP Chaplin menjelaskan bahwa psyche (jiwa) merujuk pada beberapa hal seperti prinsip hidup, asas-asas, pikiran, akal, ingatan termasuk di dalamnya proses terjadinya kesadaran dan ketidaksadaran. Konsepsi jiwa bersifat metafisik (tidak bisa terlihat dengan kasat mata)/non materiil sama dengan Ruh (ruhiyah) namun memiliki terminologi dan definisi yang berbeda (baik antara Jiwa maupun Roh).

Jiwa berasal dari bahasa sansekerta jiva yang secara terminologi mengambil konteks filosofi agama kuno yang berasal dari keluarga dharma (Jainisme). Konteks filosofi agama ini menjelaskan bahwa kehidupan di dunia dibuat kekal oleh peralihan Jiwa yang secara esensial telah telah menyebabkan keburukan dan penderitaan. Jiva dalam konteks agama ini adalah sesuatu tanpa permulaan dan tanpa akhir. Sehingga tidak heran mereka dapat mengelompokkan jiva kedalam tiga kategori; (1) Jiva yang belum mengalami perubahan, (2) Jiva yang sedang mengalami perubahan dan ; (3) yang sudah bebas dari kelahiran kembali.

Perbedaan jiwa dan roh dapat diilustrasikan dari komputer dan listrik. Komputer merupakan perangkat keras yang di dalamnya memuat program. Komputer merupakan elemen fisik sedangkan program dalam komputer adalah elemen “halus” yang menjadikan komputer itu memiliki nilai tepat guna. Komputer tidak akan mampu hidup tanpa adanya aliran listrik. Listrik memiliki peranan penting dalam menghidupkan dan memfungsikan komputer terutama menjalankan programnya. Dari ilustrasi di atas dapat kita simpulkan bahwa komputer sebagai elemen fisik hanya sebagai media perantara dalam menjalankan program yang berada di dalamnya. Program komputer tentunya tidak dapat dijalankan jika tidak adanya aliran arus listrik yang menghidupkannya. Begitu juga antara raga, jiwa dan roh pada manusia itu sendiri. Raga manusia hanya akan terlihat sebongkah daging (nyawa) jika ia tidak dihidupkan oleh roh. Roh pada raga menjadikannya dapat bergerak bebas aktif dan melakukan aktivitas maupun mobilitas. Namun, raga yang tak dilengkapi oleh jiwa ia tak layaknya hidup bagaikan robot yang hanya diprogram untuk melakukan sesuai tujuan. Jelas manusia tidaklah demikian bukan?

Aristoteles menyebutkan jiwa sebagai kekuatan hidup (Walgito, 2004) di mana ilmu ini mempelajari gejala-gejala kehidupan. Aristoteles cenderung menyebut jiwa dengan sebutan anima.

Konsepsi jiwa menurut perspektif perilaku (behaviour) dalam ilmu psikologi memuat unsur seperti kognisi (panggraito), afeksi (olah rasa) dan konasi/psikomotor (olah cipta) yang secara keseluruhan dimiliki oleh setiap manusia. Konsepsi jiwa menurut perspektif perilaku memandang bahwa perilaku manusia terdiri dari perilaku yang tampak (observasional) dan yang tidak tampak. Ranah kognisi secara umum menjelaskan kemampuan otak dalam mengolah informasi yang diterima. Berbicara unsur kognitif, maka ada peranan otak yang bekerja dalam membaca, “menyimpan”, serta “mendistribusikan data” yang tersimpan. Kognisi juga merupakan aspek intelektual yang menentukan kemampuan manusia dalam proses pembuatan keputusan (decision maker). Aspek intelektual secara luas merupakan kemampuan individual dalam memecahkan permasalahan. Intelektualitas tidak hanya menyangkut tendensi kecerdasan individu, namun pada hakikatnya intelektualitas individual ditentukan oleh kemampuannya dalam menyelesaikan ataupun menjawab permasalahan yang dihadapi. Selain itu, daya kognisi manusia menyangkut proses mental yang di dalamnya mencakup adanya penerimaan reseptor panca indra manusia (seperti persepsi, sensasi dan atensi).

Afeksi menyangkut komponen emosi manusia dalam merespon setiap stimulus yang diterima pada otak. Otak pada emosi memiliki peranan penting dalam menentukan respon yang tepat atas stimulus rangsang yang diberikan.

Elemen terakhir dari jiwa berdasarkan perspektif behaviour adalah konasi/psychomotor. Konasi merupakan elemen penggerak (memotori) dimana didalamnya terdapat inisiasi untuk kemauan, berbuat, usaha dll. Ketekunan individu merupakan satu diantara banyaknya unsur elemen konasi ini.

Jiwa secara kontekstual keilmuan (termasuk roh) awal mulanya sulit untuk menjadikannya sebagai satu keilmuan yang dapat dibuktikan kebenarannya karena tidak adanya alat ukur yang pasti. Jiwa maupun roh dengan sifatnya metafisik/immaterial yang tidak dapat diraba (perspektif panca indra) baik secara jenis, ukuran, bentuk membuatnya diragukan baik secara akurasi validitas maupun reliabiltas. Namun seiring dengan berkembangnya pengetahuan dan metode yang diujikan maka Psikologi tidak lagi menjadi sebuah ilmu yang dihantui oleh asumsi mitologi/asumsi tetapi justru telah terdepan dalam meletakkan dasar pengetahuan dalam mendeskripsikan, memprediksikan dan menysusun intervensi perubahan perilaku pada mahluk hidup (terutama manusia sebagai subjek kajian dari ilmu ini).

Ilmu jiwa baik saat ini maupun yang akan datang dipastikan telah mendapatkan perhatian serius mengingat bahwa dalam kontekstual hubungan manusia yang lebih besar dan luas (makro, termasuk dalam penetapan kebijakan politik berbangsa dan bernegara), manusia sebenarnya tidak lagi dipermasalahkan oleh hal yang sifatnya destruksi fisik (kemiskinan, kelaparan, peperangan dan lain-lainnya) namun akan menghadapi tantangan di mana masing-masing manusia akan “berperang” dengan pikirannya (mind war) yang tentunya akan berimbas pada daya tahan kejiwaan manusia.

Pentingnya mengenal ilmu ini tidak lain bahwa kita harus menyadari ternyata manusia merupakan active user yang seringkali kita menganggap bahwa kesehatan jiwa tidak lebih penting dari kesehatan fisik itu sendiri. Padahal, hasil beberapa penelitian dalam beberapa dekade ini menjelaskan betapa kesehatan diri manusia ditentukan oleh tingkat kesejahteraan psikologis diri yang memuat komponen kemampuan bersyukur (gratefullness), menghargai diri sendiri, bangkit dari keterpurukan dan mampu merancang sistem regulasi diri ketika berhadapan dengan kondisi diri yang penuh tekanan dan hal lainnya.

Oleh sebab itu maka penulis mengajak kepada para pembaca maupun seluruh elemen masyarakat bahwa menyadari menjaga kesehatan jiwa itu memiliki derajat yang sama dengan menjaga kesehatan fisik diri.

Semoga.

 

Salam sehat jiwa!

(Dari berbagai sumber)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply