Normalitas vs Abnormalitas (Bagian 1): Menyikapi Perbedaan Dalam Sudut Pandang Psikologi

 

 

Oleh Dewi Rahmawati Nur Aulia S.Psi., Kontributor di CahayaJiwa.com.

 

DISCLAIMER: CahayaJiwa.com adalah media edukasi bagi masyarakat awam. Admin CahayaJiwa.com dan kontributornya dalam berpendapat sedapat mungkin dengan berdasarkan rujukan yang valid yang bisa kami jangkau. Mohon dipahami bahwa konten dari tulisan berikut hanya menunjukkan gambaran keragaman manusia – termasuk dalam hal agama dan moralitas — dan sama sekali bukan untuk menilai mana yang benar dan mana yang salah. Jika Anda memiliki masukan atau kritik terhadap tulisan ini, silakan hubungi kami di email@cahayajiwa.com atau melalui aplikasi Whatsapp ke +6285781361440.

 

Terlihat berbeda tak berarti salah, selalu ‘berseragam’ bukan berarti kau terlihat benar.

 

NORMALITAS DAN ABNORMALITAS, APA SIH ARTINYA?

A picture containing text, book Description generated with very high confidence

Ani : “Hei Anton,,…”

Anton: “Ya, kenapa ??”

Ani : “Tahu si Mr X kan? Ih koq bisa yah dia sukanya makan serangga?”

Anton: “Tahu, yang si pemakan serangga itu kan? Kamu tahu dari mana Mr X sukanya makan serangga?”

Ani : “Soalnya aku sudah beberapa kali tertangkap melihat Mr X memakan serangga, dan dari informasi yang kutanyakan pada ibunya, sejak usia empat tahun Mr X memang sudah nampak menyukai memakan serangga yang sudah digoreng, menurutmu kenapa Si Mr X demikian?”

Anton: “Bisa ajah, mungkin karena ibu bapaknya dulu juga gitu alias keturunan.”

Ani : “Ah, gak mungkinlah, dari yang kutanyakan oleh orangtuanya semua anggota keluarganya justru sama dengan kita makanan utamanya yah nasi.”

Anton: “Dia suka makan serangga bisa jadi karena memang ga da yang dimakan…. Xixixixi.”

Ani : (pergi dengan perasaan kecewa karena tidak mendapatkan informasi yang benar)

Percakapan dua orang kakak beradik di atas adalah segelintir obrolan dari sedikitnya pengamatan masyarakat yang mungkin melihat ‘perbedaan’ perilaku individu yang berada di lingkungannya. Kondisi demikian tidak jarang kita temui di berbagai wilayah di manapun bahkan dapat terjadi di berbagai lintas bangsa.

Di awal kepenulisan penulis menjelaskan bahwa psikologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku mahluk hidup (terutama dalam kajian ini menyangkut perilaku manusia) dan proses mental. Lahirnya ilmu ini tidak terlepas dari pemikir (filsuf) yang mencoba mencari kebenaran melalui proses introspeksi dan refleksi. Psikologi merupakan ilmu, bukan lagi sebuah persepsi semu (pseudosains) karena kebenarannya dapat diuji melalui syarat pendekatan keilmuan.

Psikologi sebagai ilmu yang mempelajari perilaku mahluk hidup (terutama manusia), memandang manusia merupakan mahluk yang unik. Keunikan manusia tersebut dibuktikan dengan bahwa sekalipun mereka terlahir dari rahim yang sama di waktu yang berbeda (saudara kandung, saudara kembar, baik identik maupun non-identik) mereka tetaplah memiliki perbedaan karakteristik psikologis. Karakteristik psikologis tersebut dapat berupa kecerdasan, kepekaan (daya sensitivitas), ketangkasan, moralitas dan lain-lain. Secara konstruksi fisik antar manusia (baik berlainan jenis maupun sesama jenis) secara jelas memiliki perbedaan, demikian pula dengan proses mental yang dimiliki oleh masing-masing individu. Perbedaan tersebut akan selalu ditemukan baik antar-individu pada ruang lingkup terkecil interaksi maupun dapat terjadi di ranah komunal/kolektif (kecil maupun besar). Perbedaan adalah hal yang mutlak untuk di tanggapi dengan wajar.

Masih berbicara mengenai dasar ilmu ini, yang patut dipahami adalah bahwa psikologi sebagai ilmu yang mengkaji perilaku dan proses mental ini tidak akan terlepas dari komponen yang berasal dari luar diri — baik individual maupun sosial — seperti komponen biologis, struktur tubuh, mekanisme/cara kerja tubuh bereaksi, termasuk hal kecil sekalipun seperti bekerjanya sel-sel syaraf dalam menerima rangsang/umpan yang diberikan dari luar. Komponen luar penting lainnya adalah aspek lingkungan serta unsur masyarakat sosial budaya yang membangun di sekitarnya. Semua komponen dan aspek saling mempengaruhi. Dengan mempengaruhinya satu sama lain antara komponen dan aspek tersebut maka beberapa para ahli mencoba menjelaskan fungsi dari ilmu psikologi ini antara lain:

  • Deskripsi

Artinya Psikologi bertugas untuk membangun gambaran mengenai gejala fenomena perilaku manusia.

  • Eksplanasi

Artinya Psikologi sebagai ilmu mencoba menjelaskan dan menerangkan fenomena perilaku yang terjadi pada mahluk hidup.

  • Prediksi

Psikologi mencoba memberikan analisis perkiraan terhadap berbagai kemungkinan-kemungkinan yang akan muncul dan dialami serta berbagai hal yang akan dihadapi mahluk hidup baik secara kolektif maupun individual.

  • Konstruksi

Psikologi memiliki kemampuan untuk membangun dan menciptakan karakter-karakter perilaku individu maupun komunal yang diinginkan melalui intervensi (proses pemberian perlakuan).

Kembali kepada tema tulisan kali ini, pada percakapan di atas Ani mengungkapkan adanya penyimpangan perilaku Mr X yang dianggap berbeda dari kebiasaan masyarakat yang dilihatnya selama ini. Mr X telah menampakkan perilaku menyimpangnya sejak usia 4 tahun memiliki kebiasaan memakan serangga dianggap tidak lumrah, aneh, di luar kebiasaan masyarakat yang memakan nasi sebagai makanan pokok utamanya. Perilaku Mr X yang menjadikan serangga sebagai makanan pokok kesehariannya adalah hal yang tak lazim mengingat masyarakat yang hidup di lingkungan tersebut umumnya menjadikan beras/nasi adalah sumber pokok makanan. Adapun gejala perilaku menyimpang yang dimunculkan oleh Mr X dalam percakapan tersebut dalam istilah klinis psikologi disebut sebagai perilaku abnormal.

Normalitas maupun abnormalitas sesungguhnya merupakan konsep relatif yang berlaku pada kelompok dan waktu tertentu (Semiun, 2006). Konsep relativitas menunjukkan adanya ketidaksamaan cara pandang kelompok untuk memahami berbagai aturan penyesuaian (norma). Normalitas maupun abnormalitas pada hakikatnya adalah sebuah konsep yang memandang kemampuan individu ataupun kelompok untuk melakukan penyesuaian diri. Sehingga individu maupun kelompok akan dikatakan normal jika seseorang ataupun kelompok tersebut mampu menyesuaikan diri serta berperilaku sesuai dari harapan yang sebelumnya telah dibangun. Agar konsep ini dapat mudah dimengerti penulis memberikan beberapa contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Contohnya:

Setiap hari Senin sekolah memiliki aturan kepada setiap peserta didiknya untuk berpakaian sesuai aturan (merah putih, memakai pakaian lengkap dengan atributnya topi, dasi dll) karena pada hari tersebut setiap warga sekolah selalu melaksanakan kewajibannya untuk melakukan upacara bersama. Nah apa yang terjadi jika salah satu peserta didiknya tidak mematuhi peraturan sekolah tersebut dengan berpakaian tidak sesuai yang dengan peraturan yang telah dibuat? Siswa itu tentunya menjadi objek pemandangan yang tidak lazim karena dianggap tidak seragam/sama dengan kebanyakan peserta didik yang memakai seragam sesuai aturan. Siswa tersebut juga secara tidak disadari dianggap tidak mampu menyesuaikan diri atas peraturan yang telah disepakati.

Contoh lainnya:

Beberapa waktu lalu, kita dihebohkan dengan penampilan yang tidak biasa dari seorang kepala daerah dari sulawesi yang dahulunya kita mengenalnya sebagai sosok vokalis band yang sekarang berganti menjadi seorang pejabat publik. Penampilannya menyorot banyak begitu perhatian yang tidak biasa karena diketahui bahwa ia kini menjabat jabatan politik yang tentunya harus menjadi figur dan contoh bagi masyarakat umumnya. Pada saat tampil di salah satu stasiun TV swasta sosok tersebut memakai pakaian dinas lengkap dengan atributnya namun yang menjadi perhatian bukanlah pada pakaian yang ia kenakan, tetapi mode rambut (penulis sendiri tidak mengetahui nama jenis model rambutnya) yang mencolok tersebutlah yang memancing perhatian masyarakat untuk beropini di mana hampir sebagian besar masyarakat menyetujui bahwa sebagai pejabat publik haruslah mampu menempatkan posisinya sebagaimana seharusnya. Oknum pejabat yang dahulunya memang merupakan adalah seorang anak band haruslah menempatkan diri sesuai dari persepsi yang telah dibangun oleh masyarakat yang berlaku sejak lama.

Konstruksi pengharapan kelompok masyarakat (baik secara sosiokultural, agama, budaya adat-istiadat dll) umumnya cenderung bersifat ‘mengikat dan memaksa’ individu-individu yang berada di dalamnya. Sudut pandang kajian sosial menjelaskan bahwa kepatuhan sosial (conformity) akan terjadi jika Individu atau kelompok masyarakat dapat menyesuaikan diri dengan tatanan aturan penyesuaian (norma). Individu atau kelompok yang tidak dapat menyesuaikan dirinya dengan norma tentunya akan mendapatkan hukuman sosial yang setimpal berupa pengucilan, sanksi adat, dosa, penghakiman (justifikasi/labelling) dan lain-lain. Mengerikan bukan?? Betapa kejamnya hukuman sosial tersebut dan jika kita berbicara mengenai kestabilan psikologis diri jelas secara langsung tentunya akan mempengaruhi pada keberfungsian diri individu.

PENTINGNYA MEMAHAMI NORMALITAS DAN ABNORMALITAS

Memahami normalitas maupun abnormalitas ini sama pentingnya jika kita berbicara mengenai pentingnya mengenal dan memahami diri sendiri. Percayakah hampir sebagian besar penduduk di dunia ini memiliki permasalahan dalam mengenali diri secara lebih mendalam, hingga tidak jarang dari mereka hidup dalam ‘kebingungan’ yang justru berakibat kaburnya kesejatian diri. Mengerikan sekali bukan?

Pada tema ini penulis ini akan mengajak pembaca memahami dan merenungi bahwa terjadinya gangguan kesehatan jiwa pada manusia satu di antara penyebabnya adalah ketidakmampuan kita dalam menyikapi perbedaan (abnormalitas dalam konteks patologis) maupun penyimpangan yang terjadi baik terhadap diri sendiri maupun yang berada di lingkungan kita. Materi ini akan penulis bahas tuntas sehingga teman-teman pembaca (terutama para penyintas/survivors) bisa memahami dan mampu memaknai perbedaan yang dimiliki. Namun sebelum kita memasuki materi ini (normalitas maupun abnormalitas) ada baiknya kita “berjalan-jalan” mengelilingi beberapa daerah di indonesia untuk mengetahui keragaman yang ada di negeri kita.

  1. Kesurupan

A close up of text on a white background Description generated with high confidenceKesurupan merupakan salah satu fenomena pada manusia yang umumnya sering kita jumpai di negeri ini. Kesurupan berasal dari bahasa Jawa yang berarti kemasukan sesuatu hal yang gaib. Kesurupan memang selalu dikaitkan dengan fenomena gaib, yaitu seseorang yang kerasukan makhluk halus sehingga manusia yang kerasukan beralih kesadaran menjadi sosok yang bukan dirinya. Menurut ilmu medis modern, kondisi ini adalah suatu keadaan perubahan kesadaran yang disertai tanda–tanda yang tergolong dalam gangguan disosiatif atau kepribadian ganda atau dapat pula merupakan gejala serangan akut dari gangguan psikotik skizofreniform. Masyarakat Jawa Timur misalnya selalu menggunakan bantuan para dukun atau kyai dalam mengobati seseorang yang kesurupan. Dukun atau kyai menggunakan efek-efek suara dengan membacakan suluk dan para kyai biasanya membacakan doa-doa dalam Bahasa Arab. Menurut pandangan mereka suluk maupun doa mampu mengusir roh halus yang masuk dan menguasai raga dari penderita kesurupan.

Suluk ataupun doa yang diucapkan atau dilantunkan dengan intonasi yang baik dan teratur merupakan sound therapy (terapi suara) yang dapat menimbulkan ketenangan kejiwaan individu yang mengalami kondisi tidak sadar. Suluk adalah mantra yang dilantunkan dalam bentuk tembang mempunyai nada, intonasi dan ritme yang teratur tersendiri bagi si penderita. Kalangan bangsa Barat menyebut pengusiran makhluk halus ini dengan istilah “exorcism”.

Beberapa contoh penelitian mengenai kesurupan adalah sebagai berikut.

  1. Prayitno dan Banunaek (1968) melaporkan kasus seorang wanita sekolah perawat gigi di Jakarta yang mengalami sakit perut, pingsan, dan tidak ingat. Sesudah sadar, ia tidak ingat kejadian tersebut dan merasa seperti dalam keadaan tidur. Kejadian ini berulang setiap hari Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon.
  2. Djamaludin (1971) melaporkan mengenai fenomena hasolopan pada suku Batak di Medan, yang mirip dengan kesurupan. Fenomena semacam ini lebih sering dialami wanita dari pada pria, kebanyakan anak-anak pubertas, terjadi pada semua strata sosial, dengan diiringi perasaan frustasi dan depresi. Penderita seolah-olah hidup dalam dua dunia (gaib dan nyata).
  3. Manus (1971) melaporkan fenomena kesurupan yang sengaja dilakukan oleh tonaas dengan tujuan pengobatan. Tonaas adalah orang yang dikaruniai kemampuan yang dapat berkomunikasi dengan arwah nenek moyang (opoopo), yang dianggap mempunyai kekuatan magis-mistik.

 

2. Latah

Latah pada awalnya merupakan suatu keadaan yang sering timbul pada wanita setengah tua, tidak bersuami yang biasanya berasal dari kalangan rendah dengan kehidupan dan cara berpikir yang sederhana, gejalanya sering diawali dengan mimpi–mimpi tentang alat kelamin laki–laki atau sesuatu yang melambangkan alat kelamin yang bergantungan di dinding atau di dalam kamar tidurnya, dan apabila ia dikagetkan oleh suara atau gerakan ia segera bereaksi. Setelah episode ini berakhir, ia merasa malu, menyesal dan minta maaf atau menyalahkan orang yang telah mengejutkan dirinya. Pada masyarakat keadaan ini tidak dianggap sebagai gangguan jiwa dan terbanyak terdapat di pulau Jawa.

Soestiantoro (1985) yang mengulas latah secara historis dengan mengambil kasus di Palembang. Menurutnya, fenomena latah belum banyak diketahui, baik berkenaan dengan penyakitnya maupun hubungan dengan masalah budaya yang kompleks. Namun akhir dekade ini latah seakan menjadi suatu trend di kalangan anak muda, karena dianggap sebagai hal yang lucu dan gaul. Menurut analisa penulis, fenomena trend latah ini tidak lepas dari perkembangan dunia hiburan pertelevisian. Para publik figur memakai latah sebagai alat untuk melucu, sehingga masyarakatpun dengan mudah meniru dan menganggap latah sebagai “penyakit yang keren”. Saat kejadian tersebut berlangsung secara berkelanjutan, maka latah dalam arti gangguan kejiwaan yang asli akan timbul dalam individu tersebut.

3. Amok

A picture containing text Description generated with high confidence

Pernahkah mendengar kata amuk ataupun mengamuk? Kata ini berasal dari kata Melayu amok yang bermakna sebagai suatu kondisi kegagalan dalam mengendalikan perilaku yang hilang-sadar. Perilaku yang hilang-sadar tersebut cenderung mengakibatkan diri untuk agresif baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungan. Agresivitas dalam ranah psikologi menjelaskan tentang adanya kemampuan untuk menyakiti diri maupun orang lain (termasuk lingkungan), merusak, dan ditandai dengan adanya tindak kekerasan fisik,verbal dan lan-lain.

Maretzki (1981) menghubungkan fenomena amok ini dengan sifat orang Indonesia yang tidak suka mengekspresikan emosinya, sehingga suatu saat menjadi “mata gelap“. Menurut Arianto (2004) amok atau amuk tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan terjadi juga di Malaysia, Singapura dan negara-negara Melayu lainnya.

 

ABNORMALITAS DAN PSIKOPATOLOGI

Istilah psikopatologi akhir-akhir ini menjadi perpaduan yang menarik untuk dibahas terutama jika hal ini dikaitkan dengan konteks fenomena perilaku abnormalitas manusia atau didalam kajian psikologi sendiri. Psikopatologi berasal dari kata psikologi dan patologi, psikologi merupakan ilmu yang mempelajari perilaku manusia sedangkan patologi (yang berasal dari kata Latin pathologia) adalah kajian khusus mengenai perilaku-perilaku abnormal dalam situasi klinis. Secara umum kita dapat mengartikan istilah ini sebagai kajian yang membahas abnormalitas perilaku manusia dalam situasi klinis.

Para praktisi klinisi (terutama psikiater maupun psikolog, termasuk pekerja kesehatan jiwa) menjelaskan bahwa abnormalitas perilaku manusia dalam konteks klinis merupakan sebuah kondisi perbedaan yang tak lazim yang dapat ditentukan oleh beberapa standar prinsip berikut ini:

  • Standar statistik. Apa yang paling banyak ataupun sering dilakukan oleh orang (frekuensi perilaku yang ditampilkan).

Standar statistik perilaku diidentifikasikan jika ada lebih dari separuh populasi dalam suatu sampel menunjukkan perilaku spesifik secara menetap. Perilaku dikatakan abnormal apabila secara data angka menunjukkan lebih kecil daripada data angka perilaku yang umumnya terjadi. Esensinya persentasi data angka menjelaskan seberapa banyak perilaku yang ditampilkan dalam satu kelompok sampel (Hensley & Tewsbury, 2003; Ward, Laws, & Hudson, 2002).

  • Budaya. Apa yang menjadi semangat para leluhur untuk diwariskan secara turun-temurun.

Definisi perilaku normal dan abnormal pada berbagai budaya sangat bervariasi, dalam kelompok tertentu, bergantung pada demografik (kondisi sosial seperti jenis kelamin, usia, pekerjaan, kelas sosial dll). Perilaku yang dianggap abnormal pada suatu waktu dan di tempat tertentu dapat dianggap normal. Begitu juga sebaliknya, kontekstual definisi abnormalitas selama ini cenderung bergantung pada situasi dan kondisi.

Budaya merupakan institusi normatif yang didalamnya memuat seperangkat aturan, bahasa, ide, kebiasaan, nilai dan kepercayaan yang diatur dan dijalankan oleh masyarakat itu sendiri (Lancaster & Di Leonardo, 1997). Perangkat tersebut dipelajari, diinternalisasi dan di hayati dalam kehidupan sehari-hari dan semangat nilai tersebut diturunkan melalui proses pewarisan budaya. Perilaku kelompok masyarakat yang berbudaya disepakati atas aturan, norma dan konsep-konsep, sehingga ketidakwajaran perilaku individu akan terlihat dari ketidakmampuannya beradaptasi pada norma yang dibangun.

Budaya disinyalir memberikan jalan dalam membentuk gangguan jiwa terutama jenis psikotik terhadap individu. Selain itu, adanya kemungkinan budaya menciptakan gangguan jiwa yang berbeda pada masyarakat melalui doktrinasi peranan–peranan yang mempunyai daya beban (Linton). Doktrinasi peranan setiap individu dalam budaya tersebut menjadikan mereka hidup dengan membawa beban yang dipikul. Budaya memberikan kontribusi besar dalam memunculkan gangguan kejiwaan pada individu maupun masyarakat.

  • Standar agama. Apa yang dilarang dan yang diperintahkan oleh ajaran.

Sejarah membuktikan bahwa agama memiliki peranan sebagai poros berkembangnya sistem nilai secara khusus yang didalamnya termasuk individu dan masyarakat (Kimmel & Plante, 2004; Weeks, Holland, & Waites, 2003). Konsekuensinya standar agama mempengaruhi dan memperhatikan jalan benar dan salah setiap orang /penganutnya. Standar agama idealnya menjadi satu pedoman kuat pada penganutnya untuk berperilaku sesuai dari yang menjadi ajaran. Agama diharapkan mampu menjadi pengendali perilaku penganutnya dari berbagai hal yang dapat menyebabkan penganutnya mengalami “kesesatan” (melakukan penyimpangan perilaku). Agama menjadi satu landasan kuat ketika individu membuat satu keputusan untuk berperilaku. Namun dari hasil pengamatan, penulis menangkap tidak adanya hubungan antara pengamalan ajaran penganut (religiusitas) dengan penyimpangan perilaku yang dilakukan oleh penganutnya (masih memerlukan penelitian lebih lanjut). Hal ini dapat terlihat berbagai pemberitaan akhir dewasa ini bahwa berbagai penyimpangan seperti perilaku kejahatan ada yang dilakukan oleh mereka memiliki frekuensi interaksi kuat dalam bidang keagamaan.

Bagi penulis, kaburnya peranan agama mengendalikan perilaku penganutnya merupakan sebuah situasi kondisional (yang artinya tidak bisa digeneralisasi secara keseluruhan) dimana terjadinya penyimpangan perilaku dapat dilakukan karena beragam faktor dan penyebab. Kaburnya peranan agama tidak akan terlepas dari pemahaman masyarakat secara umum mengenai keyakinan akan adanya konsekuensi/ganjaran yang pasti diterima oleh masing-masing individu atas perbuatannya. Banyaknya kasus penyimpangan perilaku yang mengatasnamakan agama juga menandai bahwa setiap pemeluk agama/diri pribadi memiliki tafsir yang beragam atas ajaran yang diyakininya hingga tidak jarang kita dapat melihat individu maupun satu kelompok tertentu mengekspresikan penghayatan ajaran/keyakinannya dengan cara yang beragam (seperti kasus Lia Eden, aliran kepercayaan dan lainnya).

Analisis penulis terhadap fenomena maraknya penyimpangan perilaku baik yang dilakukan oleh individu maupun kelompok yang mengatasnamakan agama yang terjadi adalah sebagai berikut:

  1. Agama pada kelompok paham tertentu menjadi doktrinasi penghambat individu maupun masyarakat untuk menampilkan perilaku berbeda (tampilan perilaku atas kehendak diri pribadi bukan karena adanya tatanan ajaran). Konstruksi cara berpikir ini juga diamini oleh Sigmund Freud, di mana agama dianggap merintangi individu maupun kelompok masyarakat untuk berperilaku sesuai dengan kehendak diri yang bekerja atas prinsip kesenangan (pleasure principle). Pada kajian struktur kepribadian Freud, agama, moral, nilai, aturan yang di dalamnya juga memuat sanksi, pengucilan serta perasaan berdosa maupun bersalah merupakan satu unit kesatuan yang disebut sebagai SUPEREGO. Superego pada struktur kepribadian manusia hakikatnya bekerja berdasarkan prinsip-prinsip moralitas dimana pada manusia berbagai aturan, nilai, serta berbagai konsekuensi ajaran ini menjadi satu “lampu lalu lintas” dalam memberikan pertimbangan dan memutuskan manusia untuk berperilaku. Perasaan berdosa menurut Freud menjadi awal mula munculnya benih gangguan kecemasan. Secara keseluruhan teori yang dibangun oleh Freud ini tidak mengakui adanya keberadaan Tuhan dan hanya memandang agama sebagai bentuk upaya pelarian diri/mekanisme pertahanan diri.
  2. Pada kehidupan keagamaan (internal) masih terdapat perbedaan penafsiran terhadap materi ajaran. Tidak adanya penilaian dengan batasan jelas serta banyaknya sumber yang memberikan referensi/rujukan atas sebuah persoalan pengamalan ajaran menjadikan individu atau kelompok keagamaan juga akan cenderung berperilaku berbeda pula (contohnya beragam sekte dan kelompok aliran dalam agama tertentu). Semakin besar jarak perbedaan penafsiran antar individu maupun kelompok maka akan semakin beragam pula perilaku yang ditampilkan oleh penganutnya.
  3. Pemeluk agama rentan melakukan penyimpangan perilaku disebabkan kurangnya penghayatan terhadap isi ajaran agamanya. Adapun penyimpangan perilaku setiap individu memiliki derajat yang berbeda-beda.
  4. Agama menjadi simbol privasi personal masing-masing individu di mana semua perilaku manusia pada akhirnya bermuara pada kemampuan pemeluknya untuk menghayati ajaran agama yang diyakini. Artinya, individu secara sadar menyadari bahwa setiap perilaku yang ditampilkannya tentu mengandung konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkannya secara keagamaan (antara diri individu dengan Tuhannya).
  • Subjektivitas. Berkenaan dengan penilaian individual terhadap perilaku (Holmes, 1991, p. 2).

Menurut beberapa peneliti satu diantara standar penting untuk menentukan abnormalitas yakni adanya penilaian subjektif (e.g., Weeks, Holland, & Waites, 2003). Penilaian subjektif mengarahkan potensi individu untuk berperilaku (baik sesuai persepsi kelompok penilai maupun persepsi diri sendiri). Penilaian subjektif individual maupun kolektif (masyarakat) memberikan potensi besar individu untuk mengalami gangguan kejiwaan. Pada masyarakat kolektif penilaian tersebut dapat dilihat dari berlakunya nilai dan norma yang berlaku dimasyarakat.

 

SUMBER:

E. Purcell, Catherine and Bruce A. Arrigo. 2006. The Psychology of Lust Murder. Library of Congress.

Prawitasari Hadiyono, J.E. (2003). Psikologi Klinis (pengantar terapan mikro dan makro). Jakarta: Erlangga.

Walgito, Bimo. 2004. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Webster’s New World Medical Dictionary. Second editon. 2003. Wiley Publishing.

Print Friendly, PDF & Email

One thought on “Normalitas vs Abnormalitas (Bagian 1): Menyikapi Perbedaan Dalam Sudut Pandang Psikologi

Leave a Reply