Perkenalan kepada Psikologi Humanistik #1

 

PERKENALAN KEPADA
PSIKOLOGI HUMANISTIK #1

 

APAKAH PSIKOLOGI ITU?

 

PENDAHULUAN

Ini adalah tulisan pertama dari serial Perkenalan kepada Psikologi Humanistik — yang sesuai pengalaman penulis — adalah kumpulan filosofi dalam psikologi yang banyak berguna untuk mengarahkan seseorang kepada pandangan tentang pemulihan yang dialami oleh banyak orang dengan gangguan jiwa. Rangkaian tulisan ini akan menitikberatkan untuk memperoleh titik terang dalam hal pemikiran jika seseorang mengalami gangguan/masalah kejiwaan sehingga mereka punya kemampuan untuk mengelola masalah secara lebih baik. 

Mohon dimaklumi bahwa rangkaian tulisan ini tidaklah dimaksudkan sebagai pengganti dari terapi psikologis dan obat medis yang dilakukan dan diberikan oleh psikolog dan psikiater, namun rangkaian tulisan ini dimaksudkan sebagai informasi agar diketahui bahwa pemikiran atau filosofi dalam psikologi pun mampu menyumbang hal yang sangat berarti dalam perjalanan pemulihan orang dengan gangguan/masalah kejiwaan.

Rangkaian tulisan ini hanya mencakup filosofi psikologi versi Barat, dan harus dimaklumi bahwa karena kurangnya keakraban penulis dengan literatur psikologi Asia, seperti sejarah pemikiran dalam Psikologi Islam atau Psikologi Buddhisme maka rangkaian tulisan yang disajikan di sini tidak akan mencakup ranah psikologi Timur, tanpa mengurangi rasa hormat penulis terhadap ranah psikologi tersebut.

Dan seperti tujuan utamanya untuk memperkenalkan pemikiran-pemikiran dalam Psikologi Humanistik, maka tulisan-tulisan sebelum itu hanya dimaksudkan sebagai pengantar agar lebih memahami Psikologi Humanistik dalam letaknya dalam ilmu Psikologi secara keseluruhan.

Seperti tujuan umum dari pendirian CahayaJiwa.com yaitu sebagai media edukasi bagi masyarakat awam, maka, jika Anda adalah profesional kesehatan jiwa atau peneliti yang tengah melakukan studi, akan menemui bahwa konten dalam rangkaian tulisan ini telah disederhanakan dan mungkin tidak akan memuaskan Anda yang mencari keterangan ilmiah berkualitas tentang Psikologi Humanistik dan hal-hal lainnya sebagai pengantar kepada hal tersebut.

Referensi yang digunakan penulis diletakkan di akhir masing-masing tulisan. Kata-kata seringkali diformat dengan huruf kursif atau huruf kursif tebal untuk memfokuskan kepada permasalahan yang dibahas. Pembahasan dalam rangkaian tulisan ini lebih memfokuskan kepada pemikiran dan sudut pandang sehingga hal-hal yang tidak terlalu relevan atau dapat mengganggu pemahaman sebagai masyarakat awam akan dikurangi kadarnya atau ditiadakan sama sekali.

APAKAH PSIKOLOGI ITU?

Kata psikologi nampak lebih mudah ketika yang dibicarakan hanya tentang asal-muasal kata itu. Kata psikologi secara harfiah berarti “ilmu tentang pikiran” yang terdiri atas dua kata dalam Bahasa Yunani psukhê yang artinya “nafas, jiwa, pikiran” (Bahasa Inggris: breath, soulmind) dan logos yang artinya “ilmu.” Namun masalah nampak menjadi semakin serius ketika kita ingin menemukan penyebab mengapa arti pikiran menjadi demikian penting.

Banyak manusia tertarik kepada apa yang dilakukan oleh kita seperti yang tercermin dalam perilaku kita, dan terlebih dari itu banyak orang mengajukan pertanyaan yang jauh lebih mendalam: Mengapa kita melakukannya? Sejak pikiran dan perilaku diduga banyak berkaitan satu sama lain, atau dalam bahasa yang lebih mudah: pikiran menentukan perilaku yang kita lakukan, maka sejak saat itulah psikologi menjadi ilmu yang sangat penting. Ringkasnya, dalam perkembangannya, psikologi bukan hanya menjadi ilmu tentang pikiran namun berkembang lebih luas menjadi ilmu yang mengkaji pikiran dan perilaku serta segala proses-proses dalam diri yang menautkan keduanya.

Suatu konsep Psikologi dalam peradaban Barat akan dianggap sebuah kajian tentang psikologi yang benar secara keilmuan ketika memang bisa dibuktikan dengan pengamatan (observasi) atau percobaan (eksperimen) alih-alih hanya merupakan sebuah teori yang berdasarkan logika murni yang abstrak. Karena prasyarat dari science atau ilmu dalam peradaban Barat adalah empirical yang artinya “berbasis-bukti”, “terlihat”, atau “dialami.”

Secara garis besar, psikologi mencakup area keilmuan berikut ini:

  1. Binatang dan manusia.

Banyak orang yang menyangka bahwa psikologi hanya mempelajari manusia, namun dalam percobaan tentang proses-proses dalam diri ini, binatang juga banyak dilibatkan terutama ketika menghadapi masalah etika tentang objek penelitian yang melibatkan manusia, misalnya ketika menguji-coba sebuah zat percobaan di otak yang belum pernah diketahui hasilnya. Maka dalam hal ini binatang-binatang dianggap pengganti yang lebih berterima secara moral daripada menggunakan objek manusia.

  1. Keturunan atau lingkungan.

Di sepanjang sejarah psikologi selalu ada pertentangan akan mana yang lebih berperan, apakah faktor keturunan atau faktor lingkungan. Faktor keturunan merujuk pada apa yang diwariskan secara turun-temurun secara genetis, dari generasi ke generasi. Sementara faktor lingkungan merujuk pada apa yang terjadi di sepanjang hidup termasuk pengetahuan, pengalaman hidup, trauma, atau luka yang diperoleh fisik misalnya karena kecelakaan lalu-lintas. Walaupun banyak penelitian membuktikan bahwa kedua faktor ini berpengaruh, baik secara sendiri-sendiri maupun dengan cara saling berinteraksi, namun kesimpulan ini tidak cukup untuk menghentikan dilakukannya penelitian-penelitian lainnya untuk memperkuat atau memperlemah kesimpulan ini.

  1. Alam sadar dan alam bawah sadar.

Sebuah perilaku banyak dipengaruhi oleh kesadaran kita, namun ada banyak konsep psikologi yang berpendapat bahwa alam bawah sadar yaitu sebuah ranah diri manusia yang terletak di bawah pengetahuan kesadaran diri mempengaruhi latar/motif tindakan dan respon seseorang.

  1. Normal dan tidak normal.

Kadar penderitaan (distress) dan keterbatasan (disability) dijadikan ukuran untuk menentukan apakah pikiran dan perilaku seseorang itu termasuk kategori normal atau tidak normal. Ukuran-ukuran tentang kadar keselarasan dengan lingkungan (maladaptive), ketidakteraturan/ketidakterkelolaan/ketidakterkendalian (disruptive), atau bahaya dan kerusakan yang ditimbulkannya (harm) terhadap individu atau masyarakat juga dijadikan tolok ukur untuk menentukannya.

  1. Rentang usia.

Karena faktor lingkungan atau faktor perjalanan hidup di atas banyak berpengaruh kepada pembentukan diri pada manusia, maka psikologi mengkaji keseluruhan perjalanan hidup manusia, namun ada banyak penelitian psikologi yang hanya mengkaji rentang usia tertentu saja, misalnya tentang masa pra-sakit pada gangguan skizofrenia yang sangat banyak terjadi di usia remaja akhir dan dewasa awal. (Skizofrenia adalah semacam gangguan halusinasi yang dialami dalam jangka waktu yang lama).

PSIKOLOGI MENJADI ILMU YANG MANDIRI

Psikologi sebenarnya termasuk ilmu yang muncul belakangan, karena banyak ilmu yang lain – seperti fisika, kimia, atau biologi – berawal di zaman kuna. Psikologi baru menjadi suatu ilmu yang mandiri lepas dari kelimuan lain sejak 1879, sejak Wilhelm Wundt (1832-1920) memulai laboratorium penelitian psikologi resmi pertama di Universitas Leipzig, Jerman. Sebenarnya ada peneliti-peneliti lain yang memulai lebih awal daripada Wundt, namun Wundt-lah yang yang pertama kali menyebut Psikologi sebagai ilmu berdasarkan eksperimen yang mandiri dan menamakan fasilitas-fasilitasnya sebagai laboratorium psikologi. Wundt juga adalah pemula dalam mengadakan jurnal psikologi yang berkonsentrasi pada pembahasan fungsi organ-organ tubuh yang berpengaruh pada proses psikologis.

MENGAPA DAN BAGAIMANA PSIKOLOGI MEMISAHKAN DIRI DARI FILSAFAT?

Bagian ini akan dapat menjelaskan kenapa filsafat/filosofi pada psikologi seperti psikologi humanistik berpengaruh banyak dan berterima begitu luas dalam keilmuan psikologi.

Pembahasan tentang pikiran dan perilaku yang menjadi topik psikologi telah banyak dibahas pada zaman kuna, walaupun pada saat itu belum didirikan sebagai ilmu yang mandiri. Salah satu Ilmu yang menjadi dasar dari Psikologi adalah Filsafat yang menekankan pada pemikiran murni; selain juga ilmu pengetahuan alam dan kedokteran yang merupakan dasar kelimuan yang agak berbeda karena lebih menekankan pada aspek fisik dan biologis.

Telah sejak zaman Peradaban Babilonia (kini merupakan wilayah yang disebut sebagai Irak) bidang Filsafat membahas tentang tautan antara pikiran dan perilaku. Tulisan-tulisan tentang kepribadian, belajar, dan motivasi telah banyak dibahas sejak zaman peradaban tinggi yang sangat awal. Tulisan-tulisan Socrates dan Aristoteles, dari peradaban Yunani Kuna, adalah dua di antaranya yang sangat terkenal. Selain itu, pada kenyataannya di abad ke-18 dan ke-19 memang ada banyak Jurusan/Departemen Psikologi yang berkembang dari Jurusan Filsafat/Departement of Philosophy.

Psikolog dan para filsuf seringkali berupaya menjawab pertanyaan yang sama. Sebagai contoh dalam hal tarik-menarik antara faktor keturunan/bawaan dan lingkungan/perjalanan hidup di atas, Plato, yang juga seorang filsuf Yunani Kuna, dari abad ke-4 Masehi, berpendapat bahwa seorang manusia lahir dengan pengetahuan dan kemampuan mental bawaan. Sementara John Locke, seorang filsuf Inggris pada abad ke-17 Masehi, malah mengatakan sebaliknya, bahwa pikiran manusia ketika dilahirkan hanyalah tabula rasa atau kosong dari hal-hal bawaan semacam itu.

Yang menjadi perbedaan antara psikologi dan filsafat adalah penekanan pada pengamatan dan eksperimen. Filsafat hingga sekarang tetap pada jalurnya yang lebih banyak mempertahankan pemikiran murni, sementara psikologi memisahkan diri sejak 1879 dengan menjadikan pengamatan dan observasi sebagai metode ilmiahnya.

BERBAGAI MAZHAB ATAU ALIRAN DALAM PSIKOLOGI

  1. Strukturalisme.

Aliran psikologi yang dikembangkan oleh Wilhelm Wundt dan kemudian diperluas oleh Edward Titchener (1867-1927).

Strukturalisme adalah aliran psikologi yang mempelajari laporan diri (introspective) oleh manusia normal berusia dewasa. Subjek yang telah terlatih melaporkan yang secara deskriptif apa saja yang merupakan unsur-unsur dari rangsang (stimulus) yang disajikan kepada mereka.

Sebagai contoh, dalam eksperimen Strukturalisme Anda diminta menggambarkan isi naskah, berat, warna, dan tipis-tebalnya sebuah buku berjudul “Siti Nurbaya.” Penggambaran yang serta-merta dengan hanya mengatakan bahwa buku itu adalah buku sastra tanpa penjelasan secara rinci unsur-unsurnya seperti hal-hal di atas tidak akan dianggap sebagai sebuah pernyataan yang valid dalam aliran psikologi Strukturalisme.

Kata struktur-alisme menyatakan kesamaan dengan apa yang dilakukan oleh para ahli kimia dengan melakukan analisa struktur unsur-unsur kimia.

  1. Fungsionalisme

Fungsionalisme lahir sebagai kritik terhadap Strukturalisme. Fungsionalisme berpendapat bahwa tujuan dari perilaku lebih penting daripada struktur dari pikiran. Fungsionalisme adalah aliran psikologi yang banyak dipengaruhi oleh teori evolusi Charles Darwin (1809–1882), yang lebih menekankan pada seleksi alamiah dan tetap bertahan hidupnya suatu spesies. Dengan demikian Fungsionalisme lebih banyak menyelidiki penyesuaian atau adaptasi subjek dalam lingkungan yang berbeda-beda.

Secara umum Fungsionalisme mengakui pandangan yang lebih luas ketimbang aliran Strukturalisme, yang memungkinkan untuk melahirkan studi yang lebih luas, misalnya dalam motivasi, emosi, dan penelitian soal kondisi psikologis pada anak-anak.

  1. Behaviorisme

Behaviorisme adalah sebuah aliran dalam psikologi yang menolak terhadap adanya konsep tentang pikiran karena menurut aliran ini, pikiran bukanlah hal yang dapat diamati. Atau dengan kosakata yang lebih tajam: Behaviorisme adalah mazhab dalam ilmu jiwa yang menolak akan adanya jiwa.

John Watson (1878-1958), pendiri aliran psikologi ini berkata bahwa yang relevan dalam penelitian psikologi adalah respon-respon yang dapat diamati. Sehingga ketertarikan dalam aliran ini hanyalah gerakan-gerakan muskular yang melibatkan otot-otot dan sekresi-sekresi kelenjar di dalam tubuh. Tujuan mereka hanya terbatas mempelajari keteraturan dan kaidah yang menautkan interaksi antara rangsang/stimulus dan respon pada manusia.

Contohnya, seorang Behavioris tidak akan mengatakan bahwa seseorang sedang bahagia namun lebih memilih untuk mengatakan bahwa seseorang tersenyum atau tertawa.

  1. Psikologi Gestalt

Psikologi Gestalt berkembang di Jerman dengan ketertarikan khusus pada masalah-masalah penerimaan/persepsi yang melibatkan indera-indera manusia serta penafsirannya.

Psikologi Gestalt menekankan bahwa penjelasan-penjelasan mengenai penerimaan/persepsi inderawiah (atau masalah perilaku lainnya) dengan upaya-upaya pada mazhab/aliran psikologi yang dijelaskan di atas hanyalah sebuah hal yang terpisah-pisah (terfragmentasi), dan Psikologi Gestalt berpendapat bahwa penjelasan-penjelasan di atas gagal untuk menjelaskan sebuah lingkungan sebagai sebuah keseluruhan. Psikologi Gestalt berpendapat bahwa keseluruhan itu lebih dari (atau berbeda dari) penjumlahan bagian-bagiannya.” Sebagai contoh, jika seseorang menonton film di bioskop sebelum teknologi pemutaran softcopy film ditemukan, maka orang tersebut akan menyaksikan suatu gambar yang bergerak secara sinambung daripada bingkai-bingkai film yang individual dan terpisah-pisah.

  1. Psikologi Psikodinamik

Psikologi Psikodinamik adalah psikologi yang mempelajari kaitan dan interaksi antara alam sadar dan alam bawah sadar – terutama di waktu yang lalu — yang menentukan kepribadian dan motivasi seseorang pada masa sekarang.

Psikologi psikodinamik berawal dengan munculnya konsep Psikoanalisis yang ditemukan oleh Sigmund Freud (1856-1939). Freud melakukan penyelidikan secara sangat rinci tentang perkembangan dan terbentuknya kepribadian dengan penekanan pada pengalaman semasa anak-anak dan alam bawah sadar sebagai sumber motivasi dari orang tersebut.

Freud adalah tokoh psikologi yang menemukan, atau setidaknya mempopulerkan, istilah bawah sadar; dan karena pencerahannya pada alam yang berada di luar kesadaran manusia itu maka konsep psikoanalisis Freud berpengaruh luas sekali kepada banyak bidang, misalnya pada dunia seni dengan berdirinya aliran Surrealisme di mana bentuk-bentuk seni yang tak lazim tetap dapat diterima karena dianggap sebagai curahan langsung dari alam bawah sadar.

Hingga masa sekarang ini, psikoterapi atau terapi wicara yang berdasar pada konsep psikoanalisis Freud merupakan jenis terapi yang sangat umum, bahkan di negara-negara yang sudah maju dunia kesehatan jiwanya, terapi jenis ini kadang-kadang memiliki klinik khusus dengan ditangani oleh ahli-ahli yang khusus pula.

Freud memiliki murid yang bernama Carl Gustav Jung (1875-1961) yang kemudian memisahkan diri dan mengembangkan teori psikoanalisis yang agak berbeda dengan penekanan pada alam bawah sadar bersama yang ia sebut sebagai alam bawah sadar kolektif, yaitu sebuah alam di luar kesadaran yang menjadi penyebab mendasar mengapa begitu banyak cerita rakyat atau mitologi pada suku-suku di satu bangsa atau pada bangsa-bangsa yang berdekatan memiliki kemiripan satu sama lain.

  1. Pandangan yang Lebih Baru dalam Psikologi

Banyak para ahli yang berpendapat bahwa upaya-upaya untuk menjelaskan perilaku dengan hanya menggunakan satu pandangan di atas dinilai tidak berhasil dengan baik. Tidak satupun dari salah satu aliran psikologi di atas dapat menjelaskan semua jenis perilaku. Oleh karena itu dalam perkembangannya setelah era psikoanalisis adalah membatasi ranah studi menjadi aspek-aspek tertentu dari perilaku saja.

Jika hanya dilihat dari sudut pandang atau perspektif keilmuan psikologi yang kemudian berkembang itu maka muncullah psikologi dengan perspektif:

  1. Biologis, atau mungkin lebih akurat jika dikatakan sebagai berperspektif Fisiologis, yang menjelaskan perilaku berdasarkan fungsi alat-alat tubuh.
  2. Evolusioner, dengan penekanan pada pewarisan secara turun-temurun (genetis), evolusi (yaitu perkembangan secara lambat dalam waktu yang lama), dan seleksi alamiah (yaitu seleksi di alam yang menyingkirkan yang tidak selaras dengan alam dan mempertahankan mereka yang paling fit) sebagai pusatnya.
  3. Humanistik, dengan penekanan pada pencapaian atau pemaksimalan potensi manusia sepenuh-penuhnya, yang sering disebut dengan aktualisasi diri, yang akan banyak dibahas pada serangkaian tulisan ke depan.
  4. Kognitif, dengan penekanan pada proses-proses mental berpikir, pemrosesan informasi, penggunaan logika, dan pemecahan masalah.
  5. Sosiokultural, dengan penekanan pada perbandingan-perbandingan antara suku, etnis, ras, atau kelompok budaya yang berbeda lainnya (misalnya perbandingan antara perilaku masyarakat perkotaan dan perdesaan).

Sebagai sebuah pengantar sederhana yang memperkenalkan Apa Itu Psikologi? maka hal-hal lainnya yang relevan namun dapat memperumit pemahaman tidak dijelaskan, misalnya saja pembagian Psikologi berdasarkan jenis keahlian, seperti Psikologi Klinis, Psikologi Forensik, Psikologi Industri, dan sebagainya.

Kami harap pengantar ringkas ini dapat memberikan gambaran yang menyeluruh bagi Anda, sebagai tulisan yang mengawali dan memperjelas letak Psikologi Humanistik dalam ilmu Psikologi secara keseluruhan.

 

Dikompilasi oleh Anta Samsara

(anta.samsara@gmail.com, https://www.facebook.com/antasamsara)

 

KEPUSTAKAAN:

Cheshire, Katherine & David Pilgrim. 2004. A Short Introduction to Clinical Psychology. London: SAGE Publication.

Google Definition. Diakses dengan cara mengetikan “define:katayangdicariapa” pada mesin pencari Google https://www.google.com/.

Moghaddam, Fathali M. 2005. Great Ideas in Psychology: A Cuktural and Historical Introduction. Oxford: One World.

Wittig, Arno F, 2001. Schaum’s Outline: Introduction to Psychology, 2nd Edition. New York: The McGraw-Hill.

 

 

 

 

 

 

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply