Serial “Homeland”: Psikosis, Trauma, dan Amerika yang Semakin Paranoid

“Homeland” adalah serial yang mengisahkan Amerika yang berada dalam ketakutan: ngeri akan terulangnya peristiwa 11 September, terlepas dari benar atau tidaknya adanya analisa yang mengatakan bahwa peristiwa munculnya sang “raja teror” itu didalangi oleh Amerika sendiri.

Sersan Nicholas Brody yang menghilang selama 8 tahun di Irak ditemukan oleh Delta Force setelah menyerang markas yang diduga didiami oleh salah seorang pemimpin penting teroris yang bernama Abu Nazir dan Zayadi. Ia pun pulang ke Amerika, dengan sambutan yang luar biasa sebagai “pahlawan Amerika.” Tapi mengapa pihak teroris menahannya dengan begitu lama, sementara mitra kerjanya dalam melakukan tugasnya sebagai penembak jitu justru dibunuh tidak berapa lama setelah ia tertangkap? Apakah ia dicuci otaknya agar kemudian ikut melancarkan serangan teror berikutnya terhadap Amerika?

Agen CIA, Carrie Mathison, yang pernah dapat info dari seorang tahanan militer Irak yang akan dihukum mati, curiga terhadap Brody dan berusaha mendapatkan bukti untuk mengetahui apa sebenarnya yang tengah direncanakan oleh para teroris. Apakah Carrie hanya berwaham? Atau memang dugaannya itu rasional dan memang ada “rencana” untuk teror berikutnya di tanah Amerika?

Sementara itu Brody dari hari ke hari mengalami trauma yang tidak mudah untuk pulih, ia digambarkan terguncang dan kehilangan kepercayaan terhadap Amerika, bahkan dalam beberapa adegan digambarkan bahwa ia salat dan, ketika melihat air yang mengalir, punya hasrat untuk berwudu. Apakah benar bahwa Brody tidak lagi percaya pada Amerika dan beralih kepercayaan kepada orang yang menawannya selama bertahun-tahun?

Agen Carrie Mathison adalah seorang psikotik karena ia minum Clozapine. Dan Sersan Brody adalah orang yang bergumul tiap hari dengan trauma yang tak pernah lepas dari jiwanya. Maka serial “Homeland” ini jadinya bukanlah bercerita tentang Amerika yang merupakan negara adikuasa, tapi bercerita soal manusia Amerika yang selalu mencari dan tak pernah diam, pada pihak yang berlawanan dan kadang-kadang merasa empati terhadap orang yang dicurigainya.

Ini adalah karya sinema di mana jiwa yang rapuh berupaya untuk tetap berjalan dan hidup dengan tegak, walaupun sukar; dan kadang pertanyaan seputar apa yang kita alami malah menambah derita.

Silakan tonton serial ini di program online yang Anda punya.

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan