Surat Cinta buat Orang dengan Skizofrenia

Print Friendly, PDF & Email

 

Sebuah kesaksian oleh Mrs. A.

Assalamualaikum wr.wb. kepada saudara saudaraku ODS, ODGJ, bipolar, gangguan perasaan dan yang terdeteksi gangguan jiwa lainnya. Pertama-tama saya mengajak marilah kita bersyukur pada Allah SWT. Karena Ia masih memberikan kita kehidupan dan bisa bertemu orang-orang yang kita cintai. Bisa bernafas dan menikmati indahnya pagi adalah hal yang patut kita syukuri.

Meskipun hidup kita dalam kekurangan, kesakitan dan kesulitan yang tidak ada habis-habisnya. Bahwa Allah memberikan kita nafas untuk hidup itulah yang harus kita syukuri. Stigma negatif yang disandangkan pada kita, kurang iman, iblis, tidak percaya Tuhan, perusak dan segala hal negatif yang ditujukan kepada kita haruslah kita sikapi dengan positif. Saudaraku, skizofrenia bukanlah penyakit jiwa yang tidak bisa disembuhkan dan juga bukan berarti kita termasuk golongan iblis. Iblis adalah mereka yang memperturutkan hawa nafsunya. Bukankah orang yang memasung ODS lebih iblis dari ODS itu sendiri.

Yang kita alami hanyalah sebentuk gangguan. Ketidak mampuan kita dalam mengatur dan membawa diri kita. Ketidak mampuan dalam mengatasi masalah sehingga membuat kita relaps. Ketidakmampuan untuk berpikir seperti orang normal. Dan itu diakibatkan oleh kadar Dopamin yang tidak normal.

Penderita cenderung berpikir rumit, tidak mampu membuat keputusan, tidak mandiri dan rentan akan masalah. Utamanya tidak mampu mengatur dirinya. Hal itu bisa diakibatkan pola asuh yang salah. Orang yang rentan seharusnya diasuh sabar dan tidak beremosi tinggi. Pengalaman pengalaman buruk yang menumpuk akan menyebabkan stressor. Stressor yang tidak mampu diatasi akan menyebabkan relaps.

Saya adalah penderita skizofrenia. Saya melalui sebuah perjalanan panjang. Mulai dari suntikan sampai obat minum. Saya sering relaps dan dibawa ke rumah sakit. Namun untungnya saya masih bisa melanjutkan pendidikan sampai S2.

Sampai akhirnya saya menikah dengan orang yang bukan ODS. Pada masa-masa awal pernikahan dan saat kehamilan yang kedua saya sempat relaps. Karena saya tidak kuat menghadapi permasalahan permasalahan rumah tangga. Karena masih sama-sama muda kami seringkali cekcok dengan berbagai masalah. Namun kami tetap bisa mempertahankan rumah tangga kami.

Dari pertengkaran, dan kasih sayang yang kami alami suami saya menyimpulkan kalau yang salah adalah dimana cara saya berpikir. Kata suami saya, saya ini ‘ora iso nyawang masalah.’ tidak bisa melihat duduk permasalahan. Tidak mengerti posisi, situasi dan kondisi.

Setelah tiga tahun bersama orang yang bukan ODS akhirnya saya belajar mengatur diri. Suami saya termasuk orang dengan kemampuan koping tinggi. Dia selalu bisa menyelesaikan masalah dengan tenang. Dan tetap punya pikiran positif. Lama lama saya belajar dari beliau bagaimana cara mekanisme koping.

Mekanisme koping adalah bagaimana cara kita menghadapi masalah. Dengan kemampuan akal, logika, dan kehendak manusia. Dari pernikahan ini saya belajar untuk menyelesaikan masalah dan tidak lari dari masalah. Bagaimana membuat masalah itu semakin kecil bukan malah membesar. Selama ini saya tinggal bersama keluarga yang ketika ada masalah dipandang sebagai sesuatu yang rumit. Bersama suami saya, saya mulai bisa memandang masalah menjadi sederhana.

Intinya, skizofrenia bukanlah penyakit karena pengaruh jin. Lebih dari itu ia adalah gangguan mental akibat kadar Dopamin dan pola asuh yang kurang tepat. Sebagai bukti, saya tetap shalat dan bahkan sempat menunaikan ibadah haji. Tapi tetaplah saya taat obat. Dan dalam pengawasan suami saya.

Hingga sekarang ini saya sudah tidak mengkonsumsi obat lagi. Karena sudah terlalu lama. Kondisi saya cukup stabil. PR saya sekarang adalah bagaimana membuat diri saya merasa nyaman atas sesuatu yang tidak saya sukai. Tidak semua hal berjalan sesuai kehendak kita. Kadang kita harus beradaptasi dengan situasi dan kondisi. Itulah yang paling sulit dilakukan oleh orang dengan skizofrenia. Karena dia lemah dalam membaca situasi dan kondisi lingkungan sekitar. Failed of adaptation. Maladaptasi itulah kondisi sebenarnya penderita skizofrenia.

Sebagai contoh ada hal yang sama sama kita alami. Saya dan suami saya. Ada gesekan antar pegawai di tempat kerja. Suami saya sempat dituduh tidak jujur mengenai masalah keuangan. Kalau saya sudah relaps. Suami saya santai-santai saja

Kemudian masalah kunci motor yang hilang. Kebetulan kunci motor kami dipinjam teman, malangnya kamar tempat tidur teman kami disatroni maling. Ada tiga hape yang hilang termasuk kunci motor kami. Untung saja motornya diparkir di rusun sebelah tempat kamar kami. Seandainya diparkir di dekat situ sudah pasti hilang. Ketika dihadapkan pada kondisi itu saya sudah lemas. Saya rasanya mau pingsan. Tapi suami saya tetap tenang. Tetap menyuruh saya memasak. Menyuapi anaknya, dan bersama saya mencari kunci motor baru dan mengganti bagian lock-nya. Pulang dari memasang kunci di bengkel suami saya masih sempat melihat rumah yang rencananya mau kita beli. Akhirnya kita makan siang bersama beli bakso yang lewat dekat rusun

Setiap orang punya kelemahan dan kelebihan yang berbeda. Kata suami saya dengan bahasa yang sederhana, “Kamu itu lemahnya di adaptasi pada lingkungan. Sedangkan kalau masalah kognitif kamu lebih unggul dibanding saya.” Kalau suami saya memang saya akui beliau cepat sekali beradaptasi dengan lingkungan. Dan punya banyak teman. Berbeda dengan saya yang soliter.

Saudara saudaraku ODS dimana saja kalian berada. Janganlah berputus asa apalagi bunuh diri. Buatlah diri kalian senang dan nyaman. Lakukan apa yang membuat kalian bahagia. Buatlah pilihan yang membahagiakan hatimu, sayangi dirimu sepenuhnya. Jangan pedulikan omongan orang. Yang penting dirimu nyaman. Pengen mangan yo mangan, pengen turu yo turu, pengen dolan ngajakin kancamu (Ingin makan ya makan saja, ingin tidur ya tidur saja, ingin jalan ajaklah temanmu). Bahagiakan lah dirimu meskipun itu dibuat-buat. Kita harus bahagia dulu sebelum menuju sukses. Yang paling penting membuat dirimu merasa tenang dan nyaman. Hari itu menular. Jika kamu bahagia orang juga ikut merasakan kebahagiaan. Tetap semangat, jalani hidup esok pasti akan lebih baik.

Salam.

Leave a Reply



Your email address will not be published. Required fields are marked *